Category Archives: 1

Pencapaian

Hari ini, tepat setahun lalu saya tinggalkan blog ini.
Tahun kemarin hingga detik ini adalah sebuah kurun waktu yang niscaya akan sangat saya rindukan pada masa-masa mendatang.
Banyak pencapaian di dalamnya.
Tak berbilang kesan yang takkan mungkin muat untuk satu page halaman.
Mereguk hasil dari sebuah kerja yang sebenarnya biasa-biasa saja.
Kerja yang saya lakukan dengan teramat santai menurut saya, tapi ganjaran Tuhan sungguh luar biasa adanya.
Sehingga kadang tak enak saya pada para pekerja keras di luar sana tapi tak meraih apa yang saya dapatkan.
Sombong dan pongah semoga saja tak menghampiri saya karenanya.

Alhamdulillah….
imbalan; dari pujian, popularitas hingga materi, sedikit banyak sudah saya dapatkan.
Menyempurnakan separuh agama pun sudah saya lakukan.
Dan saya tahu itu semua adalah tolak ukur kesuksesan di mata sementara orang.
Maka nikmat Tuhan yang mana yang patut saya dustakan..?
Mungkin dengan bersyukur, dan tidak hanya terbuai di zona aman adalah satu cara menghargainya.

Oya,
hari ini 30 september..
Ada hal yang perlu saya catat di sini sebagai sebuah pencapaian yang bolehlah saya sebut memuaskan.
Setahun lalu saya buat tulisan tentang anak pejabat yang dengan kuasanya mengintimidasi kami, mengerahkan preman untuk mencegah pemberitaan koran.
Tahukah kawan bagaimana kabarnya..?
Sekarang “si raja kecil”  itu ada dibalik jeruji, meringkuk karena dugaan miliaran korupsi.
Satu fragmen usai lagi, menguatkan frase klasik bahwa tak pernah ada yang abadi di dunia ini..

Dan tinggallah saya mulai mengira-ngira kembali..
pencapaian apa lagi yang akan Tuhan berikan, besok atau setahun ke depan nanti..

Iklan

12 Komentar

Filed under 1

Baik-Buruk

Kabar baik dan kabar buruk. Saya terima bersamaan malam ini.
Fajar, teman kantor saya menelpon, buku saya sudah masuk di gramedia sini.
Senang sekali rasanya, mengingat saya sudah capek menjawab pertanyaan yang itu-itu saja setiap harinya.
Bergegas saya ke sana. Gerimis tak jadi penghalang.
Banggalah saya buku itu dipajang di rak khusus, dirubung orang. Saya melihat mantan dosen saya di antara orang-orang itu.
Saya menjaga jarak. Saya takut takabur. Saya tak ingin melihat reaksi mereka kalau tahu saya penulisnya.
Sesekali saya hanya tersenyum-senyum sendiri dari kejauhan.
Itulah kabar baiknya.

Telepon berbunyi lagi. Dari teman, anak kampus.
Tak ada hubungannya dengan buku itu.

Anak kampus penelpon ini adalah satu diantara mahasiswa Unit Kegiatan Seni yang sebentar lagi berangkat ke Jambi bersama saya.
Ya, tinggal menghitung hari kami akan berangkat ke Jambi. Pekan Seni Mahasiswa Indonesia, tujuan kami.
Saya dipercaya mereka jadi pelatih tangkai lomba karikatur. Walau sebenarnya saya lebih suka disebut pembimbing ketimbang pelatih.
Pelatih, kesannya terlalu “wah”, menurut saya.
Toh, si Akbar, mahasiswa bimbingan saya itu tak perlu dilatih. Dia punya karakter sendiri yang sudah matang, dan hanya perlu sedikit sentuhan.

“Akbar sekarang di rumah sakit, Bang!” suara telepon di seberang, teman Akbar.
Saya tercekat.
“Iya Bang, dia salah satu korban yang kemarin diberitakan di koran abang..!”
lanjutnya lagi. Oh, rupanya inilah kabar buruknya.
Saya tak mau banyak bertanya soal kronologis. Saya keluar dari gramedia, memacu motor menuju rumah sakit Prayoga.

Banyak mahasiswa di sana.
Hawa kampus yang dua hari ini mencekam karena tawuran, terbawa hingga ke koridor-koridor rumah sakit itu.
Akbar tergolek tak berdaya. Dia paksakan bicara menyambut saya walau terbata-bata. Miris sekali saya melihatnya.
Sebatang busur panah yang terbuat dari terali motor, baru saja berhasil dikeluarkan dari tengkorak kepalanya.
Busur itu tepat mengenai dahi, tembus ke belakang telinga. Mata kirinya besar kemungkinan buta. Meski sudah diperban tapi masih terlihat bengkaknya.
Dari amatan saya pada foto rontgennya, hanya mukjizat yang membuat anak itu masih hidup.

Saya tak tahan melihat kondisinya.
Anak itu tak hanya bertalenta. Ia juga sopan dan ramah, makanya aneh saja kalau ia sampai terlibat tawuran.
Dari pengakuan dan cerita beberapa orang kawan, ia memang hanya korban salah sasaran.

Tak ada yang bisa saya lakukan, selain membesarkan semangatnya.
Sembari perlahan-lahan menghapus kota Jambi dari angan-angan saya.

26 Komentar

Filed under 1