Monthly Archives: November 2010

Pahlawan yang Terlupakan

November, 1978

Mata Subali berbinar di kegelapan malam, tak bisa menahan luap gembira saat melihat samar-samar di kejauhan perahu lambo berlayar besar itu semakin mendekat ke arah kapal mereka. Kapten Rasyid menghela nafas. Tujuh orang awak kapal lainnya yang masih berada di dek, merangsek naik ke geladak.

Betapa tidak, sepekan sudah mereka terombang-ambing di lautan luas tak tentu arah. Sejatinya mereka sudah merapat di dermaga Tanjung Perak, andai mesin Deutz berdaya pacu 300 PK yang menempel pada kapal tongkang yang mereka bawa itu tak ngadat di perairan Selayar, yang notabene belum juga separuh perjalanan dari dermaga Kendari menuju Surabaya.

Perahu lambo yang mendekat ini adalah harapan kedua bagi sembilan awak kapal, setelah sebelumnya ada sebuah kapal tanker kecil menuju Irian yang mampir hendak memberi bantuan, namun akhirnya kembali berlalu setelah menyadari mustahil tanker kecil menggandeng kapal tongkang bermuatan rotan yang berbobot mati 20 ton.

”Wawonii”. Begitu merek yang tertera pada kapal tongkang.

Adalah Abdul Rasyid, lelaki paruh baya veteran TNI yang akrab dengan panggilan Kapten ini yang bertanggung jawab penuh atas awak kapal dan seluruh perjalanan.

Delapan anak buahnya; Subali, Slamet, Warno, Basarung, Lamane, Kamaruddin, Ungke, dan Ho Ki, direkrut serampangan. Tapi rata-rata orang yang berpengalaman dalam melaut.

Kapal tongkang Wawonii milik Perusahaan Daerah. Sementara rotan muatannya milik Baba Hui, pengusaha Tionghoa, mitra dagang pemerintah. Abdul Rasyid sendiri sudah lumayan lama dipercaya sebagai Kapten kapal, dan selama itu pula semuanya berjalan lancar.

Kapal Wawonii tak hanya mengarung laut Sulawesi, tapi sudah berkali-kali menantang ombak laut Jawa. Berbagai hasil bumi pernah dibebankan. Mulai dari rotan, damar, hingga bebatuan.

Rakyat kecil pun tertolong, mengingat di tahun 1978 ini tak ada kapal sejenis yang bolak-balik dengan rute Kendari, Raha, Buton, hingga kembali ke dermaga Kendari, selain kapal Wawonii. Ina-ina pedagang kecil asal Raha biasanya menumpang tanpa dipungut biaya.

Lebih dari itu, kapal Wawonii tak bisa dinafikan peranannya bagi pembangunan daerah. Berbentang-bentang jalanan aspal yang menyambung beberapa wilayah di Kabupaten Kendari, batu-batuannya berasal dari pulau Padamarang yang diangkut bolak-balik menuju Pomalaa oleh kapal Wawonii.

Demikianlah. Belum ada kendala yang begitu berarti, hingga datangnya musibah kali ini. Kapal Wawonii mogok di perairan Selayar, tak tanggung-tanggung hingga sepekan lamanya.

”Ada orang Buton..?” teriak seseorang dari perahu lambo yang makin merapat. Suaranya memecah keheningan malam.

”Saya..!” Muallim Kamaruddin unjuk jari. Cahaya senter dari perahu lambo serta merta diarahkan ke sosoknya. Sejurus kemudian terjadi komunikasi dengan bahasa Buton. Kapten Rasyid yang berdarah Bugis, Bas Subali sang Masinis Jawa, hingga Ungke, juru mudi yang asal Sangir itu terdiam serius mencoba memahami. Awak lainnya hanya terbengong, beberapa diantara mereka mengisap rokok dalam-dalam, mencoba menawar hawa dingin yang menusuk kulit.

Negosiasi tak berlangsung lama. ”Mereka dari Maumere, dengan tujuan Tanjung Pinang, Pak..!” ujar Kamaruddin kemudian sedikit berbisik pada Kapten Rasyid.

”Tak mungkin berharap mereka menggandeng kapal kita, Pak. Tapi mereka bersedia mengangkut kita..!” sambung Kamaruddin lagi.

”Alhamdulilah..! tak apa-apa, yang penting kalian selamat sampai daratan dulu..!” sang kapten menghembus nafas lega.

Perahu koli-koli kecil mulai diturunkan. Cuma bisa mengangsur dua sampai tiga orang. Satu persatu awakpun mulai berpindah ke perahu lambo. Kini tersisa sang kapten dan dua orang masinis, Subali dan Ho Ki, yang menunggu giliran.

”Kalian berdua naiklah, tinggalkan saya sendiri di sini!” perintah kapten Rasyid kemudian. Subali dan Ho Ki terperanjat, sama sekali tak menduga keputusan itu.

”Maaf, Pak..! kami tidak bisa membiarkan bapak sendiri di sini. Apa tidak sebaiknya kapal ini kita tinggalkan saja..?” Subali angkat bicara.

”Iya, Pak..! kami siap bertanggung jawab bersama terhadap perusahaan..” Ho Ki, masinis turunan Tionghoa itu memberanikan diri ikut menimpali.

”Tidak..! saya pimpinan di sini..! saya yang bertanggung jawab..!”

”tapi, Pak…..”

”Tak ada tapi-tapian..! ini perintah..! paham..?” nada bicara sang kapten meninggi. Dua anak buahnya terdiam sejenak. Seolah masih tak percaya perintah itu.

Orang-orang di perahu lambo mulai memberi isyarat, agar segera mengambil keputusan karena perjalanan segera akan dilanjutkan.

Subali dan Ho Ki hanya pasrah kemudian. Mereka paham betul sikap Kapten Rasyid yang keras dan tegas, tapi benar-benar tak paham tindakan yang diambil sang kapten kali ini. Bergantian mereka memeluk kapten Rasyid erat-erat, seraya mencium punggung tangannya. Subali sempat meneteskan air mata haru. Bagaimanapun, diantara semua awak, dialah yang paling dekat dan punya ikatan emosional dengan sang Kapten. Baginya, Kapten Rasyid tak sekadar atasan, tapi sudah dianggap sebagai ayah sendiri. Bertahun-tahun dia mengikuti perjalanan demi perjalanan sang kapten mengarung laut kecil hingga samudra. Tak jarang di waktu senggang mereka bertukar cerita. Tak terbilang falsafah hidup yang didapatnya dari Sang Kapten. Dan miris sekali rasanya jika kali ini mereka harus berpisah dengan cara yang tak lazim, atas nama tanggung jawab.

Setelah semua awak terangkut, perahu lambo mulai menjauh meninggalkan kapten Rasyid sendiri. Perahu berlayar sehari semalam. Tiba di Tanahkeke, sebuah kampung kecil di daerah Kajang, Ujungpandang. Subali dan awak kapal wawonii lainnya turun, dan perahu penolong itu kembali melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Pinang.

Bermalam semalam di Tanahkeke, paginya mereka bergegas ke Kota Ujungpandang untuk melaporkan ikhwal kapten mereka yang masih bertahan di kapal Wawonii kepada Syahbandar. Berita kemudian diteruskan ke Kendari dan segera menyebar, hingga sampai ke telinga keluarga kapten Rasyid.

Sudah terduga, Subali dan kawan-kawan jadi bulan-bulanan tumpahan kesalahan. Berbagai pihak menuding mereka tidak berprikemanusiaan, tega meninggalkan kapten sendiri di tengah lautan. Bahkan santer terdengar kabar selentingan, Sang Kapten telah mati ditangan anak buahnya.

”Demi Allah, Kapten kami masih hidup, dan kami hanya menjalankan perintahnya..!” ujar Subali berulang-ulang pada setiap siapa saja yang bertanya. Subali jadi serba salah. Jangankan bersilaturahim dan menceritakan duduk permasalahan kepada keluarga kapten Rasyid, untuk sekadar keluar rumah saja ia merasa was-was. Terlebih lagi ada beberapa pihak dari simpatisan sang kapten yang konon mengancam keselamatannya.

Perusahaan daerah pemilik kapal Wawonii tak tinggal diam. Yusran, pimpinan perusahaan otomatis terbebani secara moral. Apalagi setelah kabar itu sampai ke Gubernur. Dikerahkanlah penyelamatan. Kapten Kudati ditugaskan membawa kapal Haluoleo, ditemani Subali dan beberapa awak Wawonii. Tim SAR Ujungpandang juga turut berpartisipasi. Tak cukup bantuan laut, helikopter milik Pertamina pun bergerak menuju area-area terakhir yang dilewati kapal Wawonii. Mereka menyisir laut Selayar bagian barat, hingga ke Bulukumba.

Sehari, dua hari. Sepekan, dua pekan, hingga masuk pekan ketiga, pencarian tak membuahkan hasil.

”Maaf, sepertinya sudah tak ada harapan..” ujar kepala Syahbandar pasrah. Diamini berbagai pihak.

Arifah, istri kapten Rasyid hanya bisa terisak saat menerima sejumlah uang duka dari Pak Kurdin bendahara perusahaan, serta beberapa petinggi perusahaan lainnya yang menyambangi. Uluran tangan datang beruntun, tapi tak juga mengobati gundah dan tekanan batinnya. Sebagai istri tentara, ia sudah biasa ditinggal dalam jangka waktu yang lama. Ia selalu siap dengan segala resiko. Tapi tak pernah terbersit di benaknya akan ditinggal sang suami dengan keadaan seperti ini. Anaknya sembilan orang, sebagian masih kecil, masih sangat butuh figur bapak. Entah bagaimana menjelaskan kepada mereka.

Dua puluh tiga hari sudah terlewati. Suasana duka masih jelas terlihat di gubuk sederhana itu. Suara orang mengaji masih terdengar bersahut-sahutan, layaknya mengantar kepergian orang yang baru saja berpulang ke haribaan Tuhan.

Arifah duduk di balai-balai, komat-kamit membaca Surah Yasin. Sebelah tangannya mendekap erat-erat Rizal anaknya bungsunya yang bulan ini juga genap berusia setahun. Bacaan itu sekali-sekali jeda, sembari menengok foto sang suami, gagah terpampang di dinding. Air mata kembali bergulir.

”Pak, bagaimana nasibmu di laut sana..” ucapnya lirih.

***

Sementara itu, nun jauh di perairan Jawa, sebelah utara Pulau Madura, sebuah kapal kecil terombang-ambing dimainkan gelombang.

Ya, kapal itu kapal wawonii. Dan sang Kapten ternyata masih juga bertahan di atasnya. Tanggung jawab, sebuah alasan klasik yang terdengar konyol dalam situasi seperti itu, tapi itulah kenyataannya. Kalaulah berpikir materi, toh tak banyak yang bisa diharap dari gaji sebagai kapten yang hanya tujuh ribu rupiah perbulan.

”Blarrr..!!” sesekali ombak menghantam dinding kapal, menyisakan percikan yang membasahi seluruh geladak. Begitu mudahnya kapal dipermainkan, terhempas ke sana ke mari. Terasa begitu ringan, apalagi muatan rotannya sudah tak ada. Sudah terlepas dari tongkang, entah pada hari ke berapa.

Untunglah sang kapten tanggap. Jangkar dilego sepanjang 30 meter, dengan begitu arus sedikit terkendali. Ombak bisa dicegah membalikkan kapal.

Tersirat kecemasan di kerutan keningnya. Usianya tak muda lagi, jelang 53 tahun. Ia sudah mengenyam berbagai asam garam kehidupan. Sebagai TNI veteran perang, berbagai tantangan terberat pernah dilaluinya. Bermain-main dengan maut telah diakrabinya. Dan di kapal kecil ini semua masa lalu itu kembali terpampang satu persatu seperti sebuah halusinasi. Kadang datang dalam wujud mimpi.

Terbayang saat ia lolos dari maut ketika hujan peluru pesawat udara pemberontak PRRI membombardir kapal Intata yang merapat di dermaga Kendari.

Terbayang saat merayap dan dibombardir sekutu ketika tugas perang gerilya di Ambon. Terbayang berondongan senjata AK-nya di garis depan dalam perebutan Jogjakarta dari tangan penjajah.

Terbayang saat terluka tembak di wajah dalam memimpin perburuan antek-antek Kahar Muzakkar yang dipimpin Petta Baso di hutan Kolaka.

Tak luput pula dari bayangan saat sendirian menghabisi pemberontak DI/TII dalam mempertahankan wilayah Torete dan Buleleng. Hingga terpampang jelas bayangan dirinya menggorok leher Belanda saat menyusup dan menyaru jadi tentara KNIL di Kalimantan.

Semua kejadian lampau itu seingatnya dilakukan tanpa rasa takut. Tapi entah kenapa di kapal kecil wawonii ini, kecemasan dan ketakutan kerap menghampiri dirinya. Keringat dingin selalu saja membanjiri. Apalagi suara-suara aneh layaknya teriakan-teriakan dan kadangkala menyerupai suara tangisan dari arah ruang mesin selalu mengusiknya, membuatnya terjaga nyaris pada setiap tidur malam.

Hari ini genap 23 hari di atas kapal. Kapten Rasyid ingat betul itu. Goresan lingkaran hampir memenuhi angka-angka pada kalender.

Kulit lelaki paruh baya ini menghitam legam terbakar panas matahari. Janggut dan cambang tak terurus. Tubuhnyapun semakin ringkih. Bukan karena tak makan, terlebih karena digerogoti beban pikiran. Toh asupan gizi di kapal ini masih cukup memadai. Persediaan beras masih banyak, sebagaimana ikan sisa pancingan semalam yang masih teronggok, cukup untuk dikonsumsi hingga malam menjelang.

Kapten Rasyid menebar pandangan sekeliling. Tetap seperti hari-hari kemarin, yang ada hanya garis panjang horizontal batas laut dan langit, membuatnya seolah berada dalam sebuah  lingkaran besar.

Serbuk teh digulung kertas tembakau, dibakar dan hisap dalam-dalam, dijadikannya pengganti rokok menemani lamunan.

Tetapi tiba-tiba ia tersentak, bangkit sekonyong-konyong, saat dari kejauhan tampak segerombolan burung terbang rendah.

”Ini pertanda baik” gumamnya. ”pasti ada daratan di dekat sini”.

Dugannya tak meleset. Sang kapten sujud syukur saat beberapa sampan nelayan terlihat di kejauhan. Nyata, dan bukan fatamorgana.

Demikianlah. Seperti mimpi dirasakannya. Hamparan pulau dikelilingi karang terbentang di depan mata. Masalembu nama pulau itu, masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

“Aha panu, bele..” pekik seseorang di antara penduduk yang merubung dalam sekejap, saat sang kapten menjejakkan kaki di tanah pualu itu. Kapten Rasyid sedikit terkejut. Ia paham ucapan itu. Bahasa suku Bajo yang berarti “orang hanyut”.

Sebersit senyuman serta merta tercipta dari wajah tuanya, setelah sekian lama ia nyaris lupa bagaimana rasanya tersenyum.

Dedicated to our father..

Our Hero..

Abdul Rasyid,  24 April 1924 – 22 September 1996

Selamat Hari Pahlawan, Pak..

(Ditulis berdasarkan wawancara dengan Subali, Arifah, dan Kapten Rasyid sendiri semasa hidup)

18 Komentar

Filed under Tak Berkategori