Monthly Archives: Juli 2008

Akbar

Belum terlalu lama saya kenal anak itu. Baru sebulan belakangan.
Saya diminta jadi pembimbingnya di bidang karikatur untuk sebuah kompetisi seni mahasiswa tingkat nasional di Jambi.
Akbar nama mahasiswa itu. Sempat saya ceritakan pada postingan blog ini sebelumnya.

Sebenarnya, kalau mau jujur, si Akbar ini bisa dibilang masih lemah pada ide, dan sedikit mentah pada teknis.
Satu hal yang bisa dipaksakan jadi nilai plus darinya, hanya karena ia punya karakter yang kuat, ditunjang semangat yang menggebu-gebu.
Mungkin itu yang membuat saya tak butuh kerja keras untuk mengarahkannya.
Bahkan ketika seminggu saya tinggalkan karena kesibukan, pada minggu berikutnya perkembangannya sudah melaju begitu pesat. Sebagai pembimbing, manusiawi jika saya sempat kuatir bakal tergerus olehnya.
Jujur, jarang saya temui orang yang gigih sepertinya. Tak segan ia menelpon saya untuk sekadar bertanya hal-hal kecil yang kadang menurut saya tak begitu penting untuk ditanyakan.

Hingga akhirnya, sebuah insiden tragis mematahkan semangat saya. Akbar jadi korban kerusuhan kampus.
Sebatang busur panah membuatnya tersungkur pada detik-detik keberangkatannya bersama saya berkompetisi di Jambi itu.
Busur panah melekat tepat di dahi, diantara dua matanya.
Setelah operasi, penglihatannya rabun. Mata kirinya katanya tak lagi berfungsi dengan baik.

Melihat kondisinya yang payah seperti itu, sementara hari H tinggal menyobek dua tiga lembar almanak, saya serta merta lempar handuk.
Saya putuskan batalkan saja keberangkatan. Saya minta nama saya dicoret dari daftar nama pembimbing yang akan berangkat. Tanpa saya minta pun anak-anak kampus bisa memaklumi itu.

Tapi belakangan saya dikabari, si Akbar keras kepala. Ia ngotot tetap akan berangkat, ada ataupun tanpa saya.
Apa lacur, nama saya terlanjur tercoret. Tiket pesawat yang sejatinya milik saya sudah terganti nama orang lain. Tapi tak apa, pikir saya. Lagipula butuh birokrasi yang panjang soal perizinan di kantor andai saya memaksakan kehendak.

Pada akhirnya saya hanya bisa menjabat erat tangan Akbar, menepuk-nepuk pundaknya, memberi spirit alakadarnya di sore hari jelang keberangkatan itu.
Di mata saya, anak itu tak ubahnya seorang prajurit spartan terluka yang menuju medan perang dengan hanya bermodalkan semangat baja, tanpa ambil pusing pada kelemahan sendiri.

Semalam, tak sadar saya dibuatnya berkaca-kaca.
Dia menelepon dari Jambi. Tak banyak yang bisa diucapkannya.
“Terima kasih untuk semuanya, Bang..! Saya juara satu..!” ujarnya lirih terbata-bata. Saya tangkap suara tangis tertahan di seberang sana. Disambut sayup-sayup gemuruh sorak-sorai kawan-kawannya.

Tak terbilang perasaan saya. Bangga tapi juga malu.
Bangga, karena anak bimbingan saya ternyata mengulang prestasi yang pernah saya raih berapa tahun silam.
Malu, karena ia juga menampar saya dengan satu pelajaran moral:
“Putus asa hanya ada pada kamus usang para pecundang”.

31 Komentar

Filed under Alakadarnya

Baik-Buruk

Kabar baik dan kabar buruk. Saya terima bersamaan malam ini.
Fajar, teman kantor saya menelpon, buku saya sudah masuk di gramedia sini.
Senang sekali rasanya, mengingat saya sudah capek menjawab pertanyaan yang itu-itu saja setiap harinya.
Bergegas saya ke sana. Gerimis tak jadi penghalang.
Banggalah saya buku itu dipajang di rak khusus, dirubung orang. Saya melihat mantan dosen saya di antara orang-orang itu.
Saya menjaga jarak. Saya takut takabur. Saya tak ingin melihat reaksi mereka kalau tahu saya penulisnya.
Sesekali saya hanya tersenyum-senyum sendiri dari kejauhan.
Itulah kabar baiknya.

Telepon berbunyi lagi. Dari teman, anak kampus.
Tak ada hubungannya dengan buku itu.

Anak kampus penelpon ini adalah satu diantara mahasiswa Unit Kegiatan Seni yang sebentar lagi berangkat ke Jambi bersama saya.
Ya, tinggal menghitung hari kami akan berangkat ke Jambi. Pekan Seni Mahasiswa Indonesia, tujuan kami.
Saya dipercaya mereka jadi pelatih tangkai lomba karikatur. Walau sebenarnya saya lebih suka disebut pembimbing ketimbang pelatih.
Pelatih, kesannya terlalu “wah”, menurut saya.
Toh, si Akbar, mahasiswa bimbingan saya itu tak perlu dilatih. Dia punya karakter sendiri yang sudah matang, dan hanya perlu sedikit sentuhan.

“Akbar sekarang di rumah sakit, Bang!” suara telepon di seberang, teman Akbar.
Saya tercekat.
“Iya Bang, dia salah satu korban yang kemarin diberitakan di koran abang..!”
lanjutnya lagi. Oh, rupanya inilah kabar buruknya.
Saya tak mau banyak bertanya soal kronologis. Saya keluar dari gramedia, memacu motor menuju rumah sakit Prayoga.

Banyak mahasiswa di sana.
Hawa kampus yang dua hari ini mencekam karena tawuran, terbawa hingga ke koridor-koridor rumah sakit itu.
Akbar tergolek tak berdaya. Dia paksakan bicara menyambut saya walau terbata-bata. Miris sekali saya melihatnya.
Sebatang busur panah yang terbuat dari terali motor, baru saja berhasil dikeluarkan dari tengkorak kepalanya.
Busur itu tepat mengenai dahi, tembus ke belakang telinga. Mata kirinya besar kemungkinan buta. Meski sudah diperban tapi masih terlihat bengkaknya.
Dari amatan saya pada foto rontgennya, hanya mukjizat yang membuat anak itu masih hidup.

Saya tak tahan melihat kondisinya.
Anak itu tak hanya bertalenta. Ia juga sopan dan ramah, makanya aneh saja kalau ia sampai terlibat tawuran.
Dari pengakuan dan cerita beberapa orang kawan, ia memang hanya korban salah sasaran.

Tak ada yang bisa saya lakukan, selain membesarkan semangatnya.
Sembari perlahan-lahan menghapus kota Jambi dari angan-angan saya.

26 Komentar

Filed under 1