Monthly Archives: April 2008

Ibu

Jika ada hal yang saat ini membuat saya mengutuk diri sendiri, mungkin itu terjadi berapa tahun silam.

Keluarga kami hidup sangat sederhana waktu itu.
Dihari tuanya, almarhum ayah saya -yang keluar dari TNI secara ilegal- memilih beralih profesi menjadi imam dan penghulu kampung.
Secara finansial, tak banyak yang bisa diharap dari seorang penghulu.
Praktis ibu sayalah yang mesti kreatif. Di pundaknya terbebani tanggung jawab berapa orang anak yang masih sekolah, termasuk saya.
Ibu berdagang keliling. Door to door dari kampung ke kampung menjajakan kain dan properti rumah tangga kecil-kecilan. Tak jarang ia berjalan kaki seharian demi lembaran rupiah yang tak seberapa.

Tibalah suatu ketika. Dimana saya masih SMP.
Masa-masa transisi dari pra remaja ke remaja. Layaknya tipikal pemuda tanggung kebanyakan yang tinggi gengsi dan masih menomorsatukan hura-hura.
Pola pikir sempit yang belum tertempa kerasnya sistem survive dunia.
Berbaur dan bergaul dengan anak-anak orang mampu, seolah menuntut saya untuk sensitif dalam persoalan strata.

Saya sedang ramai berkumpul dengan teman-teman sekolah saat itu. Bersenda gurau, ketika sesosok perempuan paruh baya berjalan sedikit tertatih melintas tak jauh dari sekolah saya. Dua tangannya menenteng beban kantung besar. Sesekali istirahat menyeka peluh.
Tak terbilang perasaan saya saat menyadari perempuan itu ibu saya. Mata saya refleks bersirobok dengan matanya.
Ibu tampak terhenyak. Ia membuang muka, salah tingkah. Sembari tergopoh-gopoh berlalu dari situ.
Saya hanya menunduk, dan enggan melihatnya hingga hilang di kejauhan.
“Kalau tak salah, itu ibu kamu kan..?” tanya seorang teman yang kebetulan mengenal ibu saya. Saya tak menjawab, dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dada saya sesak. Bergemuruh.
Saya iba, tapi juga geram.
Marah, tapi tak jelas marah pada apa dan siapa.
Bukan pada ibu saya. Tapi mungkin pada nasib dan keadaan.

Pulang sekolah saya langsung tidur. Tak lama, antara sadar dan tidak sebuah tangan lembut membelai rambut saya.
Saya tau itu tangan ibu, tapi saya tetap berpura-pura tidur.
Belaian yang lain dari biasanya. Belaian yang seolah mewakili sebuah permintaan maaf yang tak terucap.
Maaf dari orangtua yang tak sanggup membahagiakan anaknya dengan kecukupan materi. Karena memang materilah standar kebahagiaan anak seperti saya saat itu.
Mungkin saja ibu menangis saat membelai itu, tapi saya biarkan.
Saya biarkan membelai saya hingga saya benar-benar lelap.

Waktu bergulir.
Ayah saya berpulang dengan tenang. Ibu otomatis semakin membanting tulang.
Status single parent tak membatasi langkahnya terus bekerja hingga saya berhasil dijadikannya sarjana.
Tak terasa anak-anaknyapun mulai mandiri satu persatu.
Abang saya banyak yang sudah berkecukupan dan terbilang mapan. Dari hasil patungan abang-abang saya kemudian, ibu saya bisa melangkah ke tanah suci seperti impiannya sejak lama.

Saya tak ingat jelas kapan ibu saya berhenti berdagang.
Yang pasti, pulang dari berhaji itu ia sudah mulai tak kuat lagi berjalan jauh.

Kemarin, saya mendapati perempuan tangguh itu tergolek lemah.
Bibirnya sedikit bengkok. Dokter mendiagnosa stroke ringan.
Kami semua cemas. Terlebih saya sebagai anak bungsu yang punya ikatan emosional dengannya.

Saya sangat menyesal dulu pernah menyimpan perasaan malu menjadi anak seorang pedagang keliling.
Memori saat ibu melintas di depan saya dan teman-teman SMP itu terus menghantui pikiran saya.
Andai waktu bisa terulang, ingin saya katakan pada satu persatu teman-teman saya itu dulu, bahwasanya saya bangga punya ibu sepertinya.
Saya menyayanginya, seperti ia mengasihi saya.

Saat tamat kuliah saya pernah merantau dan bekerja di ibukota. Tapi panggilan nurani memutuskan saya kembali ke kampung halaman.
Ibu tak meminta, tapi tersirat dari nasihat-nasihatnya ia ingin menghabiskan masa-masa tua tak jauh dari anak-anaknya.

Semalam, pulang kantor saya memacu motor di antara gerimis.
Mata saya basah. Air yang berasal dari pelupuk mata berbaur dengan air hujan.
Sudah lama saya tak menangis. Entah kapan terakhir, tapi kali ini saya benar-benar menangis.
Ibu memesan susu kedelai kesukannya. Setelah berkeliling di supermarket dan apotik, saya dapat juga susu pesanan itu.
Saya ingin cepat-cepat pulang. Saya ingin segera tiba di rumah dan melihatnya sumringah dengan susu pesanannya.

Ya Allah, saya benar-benar takut kehilangannya.
Saya tak ingin apa-apa lagi saat ini. Saya hanya ingin melihat dia tersenyum dan baik-baik saja.
Andai Tuhan izinkan, saya ingin terus bersamanya hingga ajal tiba.
Entah ajalnya, atau ajal saya.

Iklan

75 Komentar

Filed under Alakadarnya

Wasiat

Saya ikut mengantar jazad itu hingga ke liang lahat siang kemarin. Jazad mertua teman saya.
Butuh perjuangan untuk mencapai lokasi kuburannya.
Tak bisa dicapai dengan kendaraan.
Kami mendaki bukit terjal. Bebatuan kadang rontok di tengah perjalanan. Diiringi teriak-teriakan tertahan, karena ada saja yang tergelincir.
Saya tak masalah, toh saya tak ikut menggotong. Tapi saya kasihan melihat mereka yang bermandi peluh.
Si penggali kubur yang tampak payah sekali, karena yang digalinya bukan cuma tanah keras, tetapi juga batu gunung.
Mencangkul, memahat. Ia tak ubahnya seperti seorang arkeolog yang mencari fosil.
Apa boleh buat, jenazah yang sudah siap, mesti menunggu hingga galian maksimal.
Prosesi pun molor hingga sore.

Aneh, pikir saya.
Kubur itu sendiri. Tak ada kuburan lain di situ.
Apa gerangan di benak orang-orang ini.
Sudah begitu sempit kah lahan pekuburan hingga tak ada alternatif selain tempat tak masuk akal itu?

Kita dari tanah, kembali ke tanah.
Tanah ya tanah. Di bukit terjal itu dan di bawah sana namanya tetap tanah. Jadi kenapa bersusah-susah?

Ternyata masalahnya tak sesederhana itu.
Wasiat, katanya. Si jenazah yang minta demikian sebelum berpulang.
Saya jadi berpikir, andai dia minta dikuburkan di Mekkah, mestikah dikabulkan juga atas nama wasiat..?

Entah kenapa, saya tiba-tiba bergidik.
Saya membayangkan jazad kaku itu saya.
Ah, jangan Tuhan..
Saya belum punya amal jariyah. Apalagi anak shaleh yang mendoakan.

Sudah cukup kiranya hidup telah banyak menyusahkan.
Kelak mati, semoga dalam keadaan tak menyusahkan.

11 Komentar

Filed under Alakadarnya

Jodoh

…dari berderet – deret lelaki dan panjangnya antrian wanita yang hingga kini belum nikah, bukanlah berarti tak laku, tak baik atau apalah.
Tapi karena memang Allah tak ijinkan kita untuk dia…
Percayalah.. biar Allah yang menyeleksinya…

nice quote dari Ati, kawan lama masa kuliah..
diforward dari ustad ke saya..

makasih, ces..
maaf, saya posting di sini, dengan maksud agar tak saya saja yang mengamininya.. 😉

23 Komentar

Filed under Alakadarnya