Monthly Archives: Maret 2008

Ochan

Tahun lalu, lelaki Petualang itu berkunjung ke tempat saya.
Dia datang bersama presenter Fransisca Rathy, disela syuting acara Jelajah.
Perkenalan singkat yang biasa-biasa saja.
Saya tak banyak bicara. Lebih banyak salah tingkah dan gadhul bashar.
Suatu refleksi permanen saya jika mendadak frontal dengan wanita menarik.

Kemarin kami bertemu untuk kedua kalinya dalam suasana yang sama sekali berbeda.
Kali ini dia datang sendiri, untuk liputan kerusuhan.
Tak heran kalau saya menemuinya di antara aparat-aparat bersenjata laras panjang yang siaga berhadapan dengan demonstran.
Kami bercerita lepas, soal apa saja.
Tertawa terbahak-bahak, seperti layaknya teman lama.

Lantas..
Seberapa pentingkah dia, hingga saya menuliskannya di sini..?
Oh, tentu saja penting.
Tak berlebihan kiranya kalau saya bilang dia inilah inspirator saya.
Blog wordpress ini saya pastikan tak akan pernah ada, andai saja saya tak menemukan blogspotnya.
Blog yang saya habiskan waktu berjam-jam untuk membaca dan merenung.
Permainan kata yang benar-benar mengikat makna. Kadangkala seperti bernyawa.
Dimana akhirnya saya seperti menemukan other side dari saya yang selama ini menggumpal dan menunggu waktu diletupkan dalam wacana.

Teruslah menulis, kawan.
Jangan pernah berhenti bermimpi menyambung garis pada peta.
Biarkan saya sesekali mengikuti progressnya.

Silahkan sumringah, saya memang mengagumi anda.
Tapi tak usah kuatir,
saya bukan homo kok.. ūüėÄ

Iklan

9 Komentar

Filed under Alakadarnya

Sampul

“Maaf, Bang.. sebenarnya saya kepingin beli,
tapi… sampulnya itu, Bang..
maaf ya..? takut ntar diliat teman-teman saya, dikirain buku apaan..”

Itu bukan satu-satunya teguran pembaca buku saya,
sebelumnya di Yahoo Messenger, ada juga yang demikian:
“Afwan, sampulnya itu bukan Akhi, kan..? kalau bukan, alhamdulillah..”

Ahh, terima kasih semuanya..
thanks..
syukran..
memang kritik itu yang saya harapkan..
karena pujian saja hanya kan membuat terbang, hingga kadang lupa daratan..
padahal kritikan dan pujian adalah satu kesatuan yang memberi warna suatu penciptaan,
selama penciptaan itu adalah buah tangan makhluk Tuhan..
bukan masterpiece langsung dari Tuhan..

Jujur, terbersit keinginan ingin menjelaskan bahwa sampul itu hanya rekayasa,
teknologi lah yang membuat itu seolah badan asli saya, walaupun bukan..
tapi toh apa gunanya..? buku itu kadung beredar, entah sudah berapa eksemplar..
pada teman-teman, baik mereka yang tersentuh agama, ataupun bukan..
dan mustahil saya mesti menjelaskan satu-persatu akan hal itu..

maafkan saya, kawan..
jika kesempurnaan yang kalian harapkan, reject saja saya dari friendlistmu, karena jelas itu bukan saya..
saya begini adanya.
complicated.
hari ini begini, besok begitu..
masih terus mencari tujuan hidup,
yang tentunya saya harapkan bisa saya temukan sebelum nafas tercekat di tenggorokan..

saya hanya ingin membuat gembira..
mencipta gelak tawa..
bukan niat bisnis belaka..

kedengarannya seperti alasan pembenaran, tapi insyaallah bukan..
karena berdosalah kiranya saya, jika menikmati rupiah dari suatu yang ternyata buruk dampaknya..

“dont judge a book by its cover” itu memang kiasan,
tapi cobalah sekali-sekali maknai secara harfiah juga..

8 Komentar

Filed under Alakadarnya

Jakarta Underkompor

Alhamdulillah, satu resolusi tercapai..

buku saya sudah terbit, walau independen dan limited edition..

Jakarta Underkompor

berhubung di sini dilarang jualan, silahkan kunjugi blog saya yang lain.

Hehehehe…

67 Komentar

Filed under Alakadarnya

Jujur

Memalukan!

Kalau yang agung saja begini, lantas bagaimana dengan yang tak agung?
Entah masih sakralkah label agung di sini.

Ya, inilah satu lagi potret memalukan hukum kita pasca era yang katanya reformasi,
setelah penguasa orde baru tak tersentuh,
hutan dijarah oleh oknum yang tak terjamah,
dan dalang pembunuh Munir yang masih sumir.

Ada yang berdalih, jangan sama ratakan semua aparat. Ini cuma satu dari sekian banyak.
Yang jujur juga kan banyak!
Oke, tapi bolehkah saya juga berdalih, bukankah ini juga cuma satu dari sekian banyak yang melakukan demikian tapi tak ketahuan?
Berteriaklah kalian tentang keadilan, tapi kenapa maling ayam dihakimi hingga mati, sementara perampok berdasi dikasih hati ?
Kenapa di sana ada yang mati kelaparan karena susahnya duit seribuan, sementara di sini ada yang buncit kekenyangan karena suapan duit miliaran?

Ah sudahlah, kalau sudah budaya, ya mau bagaimana?
Lagipula, mungkin masih bisa dengan sangat terpaksa diambil sisi manusiawi saja.

Dalam beberapa kesempatan, saya, anda, dan juga kita, mungkin sering tak jujur.
Walaupun itu hanya sebatas persoalan bertutur, ataupun ego yang terbentur. Bukan karena takut hidup tak makmur.

Berdoa saja kita tak mati dalam keadaan tak jujur.
Karena yakinlah kawan, ada kubur dan jazad yang hancur, setelah proses keniscayaan uzur.

memalukan!

4 Komentar

Filed under Alakadarnya