Dendam

Lima tahun silam, saat saya masih karyawan baru,
saya punya cerita dengan bapak petinggi itu.

Mulanya berawal curhat soal kesejahteraan pada sesama karyawan.
Biasalah sebenarnya,
tapi entah bagaimana hingga curhatnya sampai ke telinga bapak itu.
Dia merespon ketus, “Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Lewat teman saya kalimat itu diucapkan, bukan secara langsung,
tapi seolah langsung menghunjam tajam ke jantung saya mendengarnya.
Saya merasa dilecehkan.
Sangat. Karena itu profesi saya. Itu skill saya.
Saya diberi Tuhan skill itu sebagai anugerah.
Dan saya digaji perusahaan atas anugerah itu.

Berhari-hari kalimat itu terngiang,
membuat saya nyaris resign dari pekerjaan.
Ibu, saudara, dan teman membujuk kemudian,
Sugesti mereka seragam: jangan kalah oleh opini samar yang belum tentu benar!
Ya, dan saya coba bertahan.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu saya simpan, saya jadikan motivasi hingga entah kapan.
Motivasi yang sebenarnya terbalut dendam.
Yang awalnya hanya tekad agar bapak itu menjilat kembali ludahnya.

Pendulum waktu bergerak,
kinerja saya berjalan di grafik yang baik menurut penilaian perusahaan.
Alhamdulillah, semua memang butuh proses.
Dan saya tak lagi sekadar menjalani, tapi juga menikmati proses itu.
Dimana karya-karya saya perlahan punya segmen pembaca tersendiri.
Apalagi setelah saya berprestasi dalam suatu lomba skala nasional.
Terbukalah mata mereka, bahwasanya saya ada,
dan bukan sebagai penggenap ruang kosong belaka.

Lima tahun berjalan.
Kami perluas jaringan. Dibangun satu anak perusahaan koran.
“Koran tanpa karikaturpun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu masih juga terngiang,
Seiring dengan diangkatnya bapak pencipta kalimat itu jadi pimpinan anak perusahaan yang baru dibangun tersebut.

Mereka bergerilya, merekrut satu demi satu.
Wartawan dan redaktur semua sudah siap.
Tapi sepertinya ada yang masih mengganjal.
Koran baru itu terasa hambar, hanya berita tak ada gambar-gambar.
Mereka kesulitan mencari tenaga karikatur di kota kecil ini.
Akhirnya diputuskanlah meminjam saya. Untuk batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Sebenarnya saya bisa menolak jika saja saya mau.
Tapi itu tidak saya lakukan.

Kemarin bapak itu mendekat ke meja saya,
Minta dibuatkan karikatur untuk sebuah halaman korannya.
Saya memenuhi permintaannya dengan tersenyum geli.
Semoga dia masih ingat kalimat lima tahun silam.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”

Saya memang sudah memaafkannya walaupun tak terucapkan,
malah saya berterima kasih, karena sebenarnya dia pelecut kinerja saya.
Tapi entah kenapa kalimat itu tak kunjung hilang dari ingatan.

Ah, tampaknya saya harus berkeras mengubur dendam.
Karena dendam hanya ada sinetron Indonesia dan film India.

8 Komentar

Filed under Alakadarnya

8 responses to “Dendam

  1. Salut..

    —————–

    thanks, bro’..
    thanks juga udah mampir..
    😉

  2. wah… berarti belom bener2 maafin dong ham…
    orang bilang, memaafkan g berarti ngelupain.
    tapi kayaknya salah deh yah….
    yang namanya maafin yah berarti ngubur semua hal yang bikin dendam berpotensi kembali “terbit” (hehe…)

    *eh maen2 yah ke tempat baru, tapi nanti saja… skrg blom ada apa2nya…

    ———————————————————————–

    thanks, Vi..
    makanya gw bilang pengen berkeras menghapus potensi itu..
    hehehe…

    *meluncur ke blogmu 😀

  3. motivasi terbalut dendam? sangar… mudah”an skarang udah gak dendam lagi yah bang… lebih enak memaafkan kan. mungkin dia dulu ngomong gitu juga pas lagi bete ato bad mood? toh skarang dia butuh the-talented-Arham juga kan, hehe… time will tell.

    ——————————

    time will tell..
    thats right, sist..
    waktu emang sering lebih jujur ketimbang niat orangnya..
    hehehe..
    😉

  4. AF

    “Koran tanpa karikatur, tetep aja koran namanya”. Pan sebaliknya jg gitu bro. “Karikatur tanpa koran, tetep aja karikatur namanya”

    Iyah…, time will tell. Sangat setuju dgn ungkapan ini. Tambah semangat ki’ cappo!

    Btw, kapan aku dibikinin karikaturku nih? *ngemis dotcom*

  5. Arham, anda adalah contoh orang yang mampu mengubah sebuah celaan menjadi motivasi..tak banyak orang seperti anda..sebagian orang akan langsung jatuh dan terpuruk ketika dirinya dicela, diremehkan dan direndahkan…

    salut..bolehkah sekali-sekali saya mencela anda ?, biar anda semakin terpacu..?
    hehehe…

  6. Gile, semangatnya berasa banget Om! Kip fait!!

  7. Anneke

    “Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
    Tapi entah kenapa kalimat itu tak kunjung hilang dari ingatan.

    Jangan dijadikan dendam. Kalo tak mau hilang juga, anggap aja itu berarti kamu masih harus melakukan yang lebih baik lagi… 😀

  8. sangpenghibur

    Gokil bang arham..
    Dendamnya dijadikan motivasi untuk maju..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s