Monthly Archives: Februari 2008

Alzheimer

Hampir tiga hari saya tak mandi.
Hal yang sama sekali tak penting untuk dibahas, tapi setidaknya ini sudah lumayan mengkhawatirkan bagi saya.
Mungkin tak lama lagi saya bakal mati duduk. Bukan syahid diantara dua sujud, tapi karena candu komputer keparat ini.
Berhari-hari berkutat dengan monitor dan keyboard. Buku pertama saya sedikit lagi rampung. Satu atau dua hari lah.
Teman yang saya percayakan negoisasi dengan percetakan, sudah deal harga bagus. Jalan saya sepertinya mulus.

Tapi banyak hal yang harus dibarter untuk itu. Termasuk diri sendiri yang tak lagi terurus.
Alhamdulillah, belum sampai tahap amnesia untuk membedakan waktu azan zuhur dan ashar. Juga belum sampai terserang Alzheimer untuk urut-urutan rukun wudhu, walaupun saya sebenarnya mulai takut untuk hal yang satu itu, mengingat saya sering blank untuk urusan menghapal nomer telepon, ataupun kelimpungan mencari di mana tempat saya barusan meletakkan kunci motor atau handphone.

Entah, sudah berapa hari saya tak frontal dengan cermin. Yang saya rasakan janggut dan cambang mulai awut-awutan, ketombe berguguran.
Tampaknya saya memang harus segera menikah, biar ada yang mengingatkan.
Lagian saya juga mulai bisa melupakan bayang-bayangnya, saat terakhir melihatnya di Empat Mata, tempo hari.

Ya, ini momen yang tepat untuk menikah. Sebelum saya benar-benar terserang Alzheimer.
Tapi masalahnya…
calonnya siapa ya? 😦

Iklan

26 Komentar

Filed under Alakadarnya

Alfredo

Saya menonton tayangan ulang interview dia di Kick Andy.
Ternyata si pemberani nan malang itu saat status buron pernah empat tahun tinggal di sini,
di kota saya,
kota yang kecil,
kota yang bukan hal mustahil jika anda berkeliling dan kemudian berpapasan dengan orang yang sama lebih dari sekali dalam satu hari.

Atau, jangan-jangan saya pernah berpapasan dengannya..?
Tuhan yang tahu.
Tapi mengingat empat tahun bukan kurun waktu yang sedikit, itu bisa saja benar.

“Saya memutuskan begini, karena pemerintah sudah melenceng tujuan..”
kurang lebih begitu ucapnya di tayangan itu.
“Mereka ingin mengubah haluan negara menjadi komunis” lanjutnya lagi, gahar ekspresi.

Dia mati kemarin pagi.
Kalau saja yang dikatakannya itu tak hanya isapan jempol saja,
berarti saya salah satu orang yang kehilangan dia.
Peduli setan dengan urusan negaranya,
saya hanya peduli dengan semangat perlawanannya.

4 Komentar

Filed under Alakadarnya

Dendam

Lima tahun silam, saat saya masih karyawan baru,
saya punya cerita dengan bapak petinggi itu.

Mulanya berawal curhat soal kesejahteraan pada sesama karyawan.
Biasalah sebenarnya,
tapi entah bagaimana hingga curhatnya sampai ke telinga bapak itu.
Dia merespon ketus, “Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Lewat teman saya kalimat itu diucapkan, bukan secara langsung,
tapi seolah langsung menghunjam tajam ke jantung saya mendengarnya.
Saya merasa dilecehkan.
Sangat. Karena itu profesi saya. Itu skill saya.
Saya diberi Tuhan skill itu sebagai anugerah.
Dan saya digaji perusahaan atas anugerah itu.

Berhari-hari kalimat itu terngiang,
membuat saya nyaris resign dari pekerjaan.
Ibu, saudara, dan teman membujuk kemudian,
Sugesti mereka seragam: jangan kalah oleh opini samar yang belum tentu benar!
Ya, dan saya coba bertahan.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu saya simpan, saya jadikan motivasi hingga entah kapan.
Motivasi yang sebenarnya terbalut dendam.
Yang awalnya hanya tekad agar bapak itu menjilat kembali ludahnya.

Pendulum waktu bergerak,
kinerja saya berjalan di grafik yang baik menurut penilaian perusahaan.
Alhamdulillah, semua memang butuh proses.
Dan saya tak lagi sekadar menjalani, tapi juga menikmati proses itu.
Dimana karya-karya saya perlahan punya segmen pembaca tersendiri.
Apalagi setelah saya berprestasi dalam suatu lomba skala nasional.
Terbukalah mata mereka, bahwasanya saya ada,
dan bukan sebagai penggenap ruang kosong belaka.

Lima tahun berjalan.
Kami perluas jaringan. Dibangun satu anak perusahaan koran.
“Koran tanpa karikaturpun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu masih juga terngiang,
Seiring dengan diangkatnya bapak pencipta kalimat itu jadi pimpinan anak perusahaan yang baru dibangun tersebut.

Mereka bergerilya, merekrut satu demi satu.
Wartawan dan redaktur semua sudah siap.
Tapi sepertinya ada yang masih mengganjal.
Koran baru itu terasa hambar, hanya berita tak ada gambar-gambar.
Mereka kesulitan mencari tenaga karikatur di kota kecil ini.
Akhirnya diputuskanlah meminjam saya. Untuk batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Sebenarnya saya bisa menolak jika saja saya mau.
Tapi itu tidak saya lakukan.

Kemarin bapak itu mendekat ke meja saya,
Minta dibuatkan karikatur untuk sebuah halaman korannya.
Saya memenuhi permintaannya dengan tersenyum geli.
Semoga dia masih ingat kalimat lima tahun silam.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”

Saya memang sudah memaafkannya walaupun tak terucapkan,
malah saya berterima kasih, karena sebenarnya dia pelecut kinerja saya.
Tapi entah kenapa kalimat itu tak kunjung hilang dari ingatan.

Ah, tampaknya saya harus berkeras mengubur dendam.
Karena dendam hanya ada sinetron Indonesia dan film India.

8 Komentar

Filed under Alakadarnya

Gembel

Hampir jam dua ketika saya memacu roda dua.
Menembus pekatnya malam, di antara mendung menggantung dan lengangnya jalanan.

Tetap di kantor tak akan membuat saya lelap,
sementara saya sakit-sakitan akhir-akhir ini lantaran tidur yang tak cukup porsi.
ya, saya harus segera pulang.

Gerimis mulai turun satu-satu, perih menghantam kulit.
Kota ini seperti mati suri.
Hanya satu dua orang bercumbu dengan angin malam di emperan.
Ada tukang becak bermain remi, beberapa di antaranya membentuk formasi,
dipersatukan botol yang pastinya berkadar alkohol.

Saya undur gigi kemudian ketika melintasi dua sosok.
Seorang perempuan paruh baya tertatih memanggul karung,
ditemani anak kecil mengais sampah dari tong dan selokan.
Gerimis berubah menjadi curah, saya pun memutuskan parkir di tribun pinggiran trotoar.
Perhatian saya tertuju dua sosok itu dengan seksama.

ya Tuhan, ini jam dua malam!
Si tua sah-sah saja mencari nafkah, tapi anak itu layakkah berada di situ?
Dia sekitar tujuh tahun menurut taksiran,
seumuran ponakan saya yang mungkin saat ini sudah nyenyak memeluk boneka dibalik selimut hangat, dibuai mimpi cita-cita yang tinggi.

Ditingkah langkah-langkah lambat mereka mendekat.
Seingat saya di saku jeans ada sepuluh ribu rupiah kembalian bensin.
Uang sejumlah itu kadang saya remehkan, tak tersisa sekali jajan.
Saya menunggu si kecil bergerak ke tong sampah tribun, lalu lembaran itu saya sodorkan.
Si kecil mengernyit, ragu-ragu dia merapat.
Saya membaca gelagat, wajarlah di situasi begini waspada pada orang jahat.
Lama jeda ketika saya yakinkan. Hingga sorot matanya berbinar kemudian.
“Makasih Om!” lirihnya.
Girang, itu sudah pasti dirasakannya. Tapi lebih bergemuruh bahagia di dada saya.

Ibu Muslimah di buku Laskar Pelangi berkata:
“Habiskan sisa hidupmu dengan banyak memberi, bukan banyak menerima.”
ya, kadangkala memang ada kenikmatan tak berperi dalam sebuah pemberian.

Allah ya Rabbi,
kiranya jadikanlah motivasi buat pembaca tulisan ini,
Andaipun riya tak terhindari, biarkan saya tanggung dosa sendiri.

9 Komentar

Filed under Alakadarnya