SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah

*tulisan ini dimuat di Surat Kabar Harian Kendari Pos, edisi 20 Januari 2008

Saya baru pulang dari mengantar ibu saya mengunjungi kerabat. Kerabat yang anaknya tewas tragis, tertimpa reruntuhan tembok pagar sekolahnya.
Anak itu sebelas tahun, belum juga memasuki masa transisi pra remaja ke remaja.
Ibunya hampir pingsan ketika kembali menceritakan kronologis peristiwa pada kami. Saya tak sampai hati melihatnya.
Ngobrol sebentar dengan suaminya, saya pamitan dan bergegas menuju TKP yang tak begitu jauh dari rumah duka.

Suasana sekolah lengang. Kabaranya diliburkan imbas peristiwa itu.
Tampak puing-puing beton bekas reruntuhan yang masih basah terhantam hujan deras semalam. Batu batanya meleleh, merah seperti genangan darah, bercampur air hujan yang terus mengalir hingga bermuara ke selokan. Seolah ingin mengenyahkan kenangan buruk yang baru saja terjadi di situ.

Saya duduk, menjamah sisa-sisa puing yang ada, sembari mencoba menarik kesimpulan subyektif penyebab runtuhnya tembok.
Basic saya arsitek. Sarjana arsitek. Walaupun bertahun-tahun sudah saya mengkhianati disiplin ilmu, tapi setidaknya sedikit banyak saya masih paham bagaimana struktur dan konstruksi bangunan, juga agregat standar untuk sebuah tembok yang kokoh.
Untuk bangunan seperti sekolah, apalagi SD, tak perlulah kiranya membangun tembok pagar layaknya tembok Berlin Jerman Barat atau tembok ratapan di Israel. Toh, anak-anak SD belum sampai kadar jenuhnya untuk melompati pagar tembok kalau kiranya merasa terkungkung dengan rutinitas sekolah.
Jadi membangun kecil-kecilan saja cukuplah, asal anggaran pas, peruntukannya jelas.
Yang saya lihat tembok itu masih sangat jauh dari layak. Pondasinya keropos, tiang kolomnya pun tak bertulang. Jangankan menahan beban dorongan misalnya. Ditendang saja pasti ambrol.

Saya prihatin. Sekolah itu masih cukup bagus, masih jauh lebih memprihatinkan dibandingkan gambaran sekolah masa kecil Andrea Hirata di Laskar pelangi.
Tapi ada hal-hal vital di sekolah itu yang sepertinya tak terurus.
Pihak sekolah menuding itu bukan kompoten mereka. Tembok itu milik sekolah SMP yang berseberangan dengan sekolah tersebut dan sudah berkali-kali diusulkan perbaikan di Diknas. Entahlah, masih bijakkah mencari kambing hitam jika telah menuai korban.
Berbagai pihak pun mulai ribut menyoal tindakan antisipatif. Tapi untuk saat ini apa gunanya? secanggih apapun antisipatif itu, jika baru dipikirkan pasca peristiwa tak akan membuat nyawa si korban kembali. Ibarat alat pendeteksi tsunami yang dibeli miliaran rupiah namun tak akan menghapus sejarah kelam bahwa negeri kita pernah terhantam badai tsunami.

Tak bisa dipungkiri gubernur terpilih kami, populer ke permukaan setelah menyuarakan visi misi pendidikan gratis. Ribuan simpatisan pun mengelu-elukan. Dan jika dikaji mendalam, program itu memang logis. Apalagi mengingat dana sektor pendidikan di negara ini mengenaskan.
Tapi ketika diperhadapkan pada peristiwa di atas maka sewajarnyalah jika mulai mengemuka pertanyaan: jangankan gratis, pihak sekolah yang makan gaji, injeksi dana BOS, dan iuran siswa pun masih tak memperhatikan kelayakan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, lantas bagaimana jika gratis?

Ya, bertambah satu lagi daftar panjang carut marut dunia pendidikan kita.
Dan tak berlebihan jika Eko Prasetyo, mengatakan:
“SEKOLAH itu akronim dari Sejuta Kilo Masalah !”

10 Komentar

Filed under Alakadarnya

10 responses to “SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah

  1. sekedar berbagi utk hal yg mungkin mirip..

    saya barusan ke salah satu sma ‘favorit’ di balikpapan…yg sedang di renovasi
    mewnyedihkan betapa keamanan siswa dari kegiatan konstruksi itu diabaikan…

    tulangan besi yg tertancap di sela2 halaman sekolah menimbulkan potensi bahaya bagi yg melintasi..

    saya melihat memotret dan menyampaikannya ke salah sattu guru kelas…

    tetap sedih

  2. mudah”an gak jadi kebiasaan kita aja yah bang, kalo bikin apa” suka gak pernah serius. padahal menyangkut hak hidup orang banyak. adekku yang SMP sekolahnya gratis kok, dan alhamdulillah gak ada hal” yang mengancam kelangsungan hidupnya 🙂

    p.s. bang… kok narsisnya gak sembuh” sih!?

    @daengrusle
    nama SMA nya apa? SMA 1? SMA 2? hehe, a city I grown up at.

  3. Arham,

    Kisah yang sangat mengharukan sekaligus begitu reflektif. Terimakasih.
    Salam kenal dari Daeng Battala!

  4. ———–turut berduka cita———-

    makanya ham, kita kudu jadi orang kaya dan baik hati, yang bisa bikin sekolahan, benerin sekolahan jugaaa….

  5. turut berduka,
    kyanya smakin mantapka utk bkecimpung di sekolah [maksudna?bingung toh??].
    ntw akronimnya bagus bang, eniwei klo ganti kerudung ijo ka nanti dikira sodaranya kolor ijokodong [hehehe…]

  6. ya..selalu saja akibat ulah pihak-pihak yang tak bertanggungjawab ya, sayang..padahal programnya udah bagus, menyisihkan 20% dari anggaran daerah untuk biaya pendidikan, tapi coba lihat, apa sekolah-sekolah yang ada semakin terlihat bagus? dari segi kualitas anak didik maupun fisik sekolah.

  7. Makasih udah mampir,,,salam kenal..saya orang muna,,ahh besar di kendari juga suatu waktu dulu….selamat menulis dan mempress….

  8. Ping-balik: SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah (from bang arham-kendari) « Rumahlebahku’s

  9. kesenjangan di sekolah terlalu membuat perbedaan yang memprihatinkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s