Orde Baru

Teman saya, Juned, profesi utama hanya seniman cetak dan sablon kecil-kecilan.
Ia dianugerahi Tuhan skill tangan yang cekatan. Segala pekerjaan disanggupi.
Kurus tubuhnya pun tak menghalangi mengerjakan pekerjaan berat yang kadang saya saja belum sempat memikirkannya.

Tapi skill saja ternyata tak cukup di jaman teknologi ini.
Skill manualnya tergerus putaran instan peradaban.
Bisnis digital printing yang mulai marak di kota kami, nyaris mematikan usaha percetakan sederhananya.
Beruntung ia termasuk orang yang tak suka foya-foya. Jika dapat proyek, hasilnya dipakai membeli aset barang bermanfaat yang dapat menunjang usahanya.
Jika kebetulan proyeknya lumayan, barulah dipakai untuk kebutuhan tersier. Televisi dan DVD player misalnya.

Tapi apa mau dikata. Bencana datang kapan saja.
Rupanya keberadaan aset-aset berharga itu telah lama diendus orang tertentu.
Dua malam yang lalu rumahnya kemasukan maling. Asetnya nyaris tak tersisa.

Polisi pun bergerak.
Sehari setelah kejadian, televisi yang hilang ditemukan di rumah seorang warga yang jadi penadah. Tapi televisi saja yang ditemukan. Barang-barang lainnya mungkin tersebar di penadah-penadah lain.

Nah, dari keterangan yang dikorek kemudian, tersangka utama bukan orang jauh. Ia sampah masyarakat yang memang meresahkan. Kerap berurusan dengan tindak kriminal. Tapi  si “sampah” ini selalu saja bebas dengan koneksi. Tak heran, mengingat tiga saudaranya adalah aparat yang lumayan disegani.
Sudah bisa diduga. Untuk kasus yang menimpa Juned teman saya kali ini, setali tiga uang dengan kasus-kasus sebelumnya.
Si “sampah” memberi alibi. Dan seperti sudah disetting skenarionya, entah intimidasi apa yang diperoleh penadah barang tersebut hingga enteng saja mengubah keterangan. Saudara-saudara si “sampah” ikut bergerilya wara-wiri ke kantor polisi.
Polisi pun seperti dicocok hidung. Si “sampah” sumringah, bebas dengan dalih tak cukup bukti.
Ini sudah tak wajar. Saya sangat curiga hukum telah dibengkokkan di sini.
Dan siang tadi saya melihat “sampah” busuk itu tertawa-tawa menyebalkan di kumpulan anak-anak muda komplotannya.
Tinggallah teman saya Juned gigit jari.

Saya menonton televisi kemudian,
tampak berita penguasa Orde Baru berjuang antara hidup dan mati.
Semua orang pasrah mendoakannya, saya ikut mengamini.

Ia akan pergi. Mati.
itu sebuah keniscayaan.
Tapi cara-cara Orde Baru yang diwariskannya ternyata tak kan pernah mati di negeri ini.

5 Komentar

Filed under Alakadarnya

5 responses to “Orde Baru

  1. seperti benang yang sengaja dikusutkan, kita yang kebagian meretasnya menjadi lurus dan bisa dipintal menjadi kain. kain ini, setelah selesai, kemudian disita karena mesti dijadiin barang bukti; atas utang yang pokoknya tak pernah kita nikmati, hanya bunga nya yang kita rasakan.

    orde baru, orde reformasi, orde BBM…
    kita selalu yang jadi obyek..

    masya Allah

  2. Muthe

    weh kasian betul…yaahh mau gimana lagi? keknya mesti sabar dan urut dada aja *kalo urut kaki keseleo namanya* hohohoho….

  3. Hmmm… gmN yaK…???#*#*#

    Mga negri kita membaik aja decH….

    Jangan cuma Berputar2 mencari siapa yang salah…!!

    TApi juga bisa menemukan bagaimana jalan keluar yang Baik dan benar…:D

    Lam knal ya mb…

    visit on my blog yaK…:)

  4. sakit. sodaraan ama aparat yang disegani, kok malah jadi maling? sodara-sodaranya pada kemana aja? gila, korup dimana-mana, bahkan di tempat-tempat yang gak diduga yah bang…

    there’s still hope, I hope.

  5. lucunya lagi..masih banyak orang yg bilang “Lebih enak jaman Soeharto”…
    secara kasat mata sih iyya…lebih enak..tapi harus kita sadari apa yang terjadi sekarang ini adalah buah dari “pendidikan” selama 32 tahun yang ditanamkan ke otak kita…

    dan parahnya lagi..efek negatifnya, kita2 yang tanggung..:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s