Monthly Archives: Januari 2008

Setengah Tiang

Dia pernah membawa kemakmuran
dengan swasembada pangan
mestinya ini jadi cambukan
mengingat sekarang nasi aking pun dimakan

Tuhan sudah menutup keburukan
tak layak kita naikkan ke permukaan

soal hukum urusan negara saja
mari berdoa lapangkan jalannya
kelupas kerak benci di dada
ikhlaskan walau sementara

karena apalah arti setengah tiang
jika dikibarkan setengah hati

4 Komentar

Filed under Alakadarnya

SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah

*tulisan ini dimuat di Surat Kabar Harian Kendari Pos, edisi 20 Januari 2008

Saya baru pulang dari mengantar ibu saya mengunjungi kerabat. Kerabat yang anaknya tewas tragis, tertimpa reruntuhan tembok pagar sekolahnya.
Anak itu sebelas tahun, belum juga memasuki masa transisi pra remaja ke remaja.
Ibunya hampir pingsan ketika kembali menceritakan kronologis peristiwa pada kami. Saya tak sampai hati melihatnya.
Ngobrol sebentar dengan suaminya, saya pamitan dan bergegas menuju TKP yang tak begitu jauh dari rumah duka.

Suasana sekolah lengang. Kabaranya diliburkan imbas peristiwa itu.
Tampak puing-puing beton bekas reruntuhan yang masih basah terhantam hujan deras semalam. Batu batanya meleleh, merah seperti genangan darah, bercampur air hujan yang terus mengalir hingga bermuara ke selokan. Seolah ingin mengenyahkan kenangan buruk yang baru saja terjadi di situ.

Saya duduk, menjamah sisa-sisa puing yang ada, sembari mencoba menarik kesimpulan subyektif penyebab runtuhnya tembok.
Basic saya arsitek. Sarjana arsitek. Walaupun bertahun-tahun sudah saya mengkhianati disiplin ilmu, tapi setidaknya sedikit banyak saya masih paham bagaimana struktur dan konstruksi bangunan, juga agregat standar untuk sebuah tembok yang kokoh.
Untuk bangunan seperti sekolah, apalagi SD, tak perlulah kiranya membangun tembok pagar layaknya tembok Berlin Jerman Barat atau tembok ratapan di Israel. Toh, anak-anak SD belum sampai kadar jenuhnya untuk melompati pagar tembok kalau kiranya merasa terkungkung dengan rutinitas sekolah.
Jadi membangun kecil-kecilan saja cukuplah, asal anggaran pas, peruntukannya jelas.
Yang saya lihat tembok itu masih sangat jauh dari layak. Pondasinya keropos, tiang kolomnya pun tak bertulang. Jangankan menahan beban dorongan misalnya. Ditendang saja pasti ambrol.

Saya prihatin. Sekolah itu masih cukup bagus, masih jauh lebih memprihatinkan dibandingkan gambaran sekolah masa kecil Andrea Hirata di Laskar pelangi.
Tapi ada hal-hal vital di sekolah itu yang sepertinya tak terurus.
Pihak sekolah menuding itu bukan kompoten mereka. Tembok itu milik sekolah SMP yang berseberangan dengan sekolah tersebut dan sudah berkali-kali diusulkan perbaikan di Diknas. Entahlah, masih bijakkah mencari kambing hitam jika telah menuai korban.
Berbagai pihak pun mulai ribut menyoal tindakan antisipatif. Tapi untuk saat ini apa gunanya? secanggih apapun antisipatif itu, jika baru dipikirkan pasca peristiwa tak akan membuat nyawa si korban kembali. Ibarat alat pendeteksi tsunami yang dibeli miliaran rupiah namun tak akan menghapus sejarah kelam bahwa negeri kita pernah terhantam badai tsunami.

Tak bisa dipungkiri gubernur terpilih kami, populer ke permukaan setelah menyuarakan visi misi pendidikan gratis. Ribuan simpatisan pun mengelu-elukan. Dan jika dikaji mendalam, program itu memang logis. Apalagi mengingat dana sektor pendidikan di negara ini mengenaskan.
Tapi ketika diperhadapkan pada peristiwa di atas maka sewajarnyalah jika mulai mengemuka pertanyaan: jangankan gratis, pihak sekolah yang makan gaji, injeksi dana BOS, dan iuran siswa pun masih tak memperhatikan kelayakan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, lantas bagaimana jika gratis?

Ya, bertambah satu lagi daftar panjang carut marut dunia pendidikan kita.
Dan tak berlebihan jika Eko Prasetyo, mengatakan:
“SEKOLAH itu akronim dari Sejuta Kilo Masalah !”

10 Komentar

Filed under Alakadarnya

Orde Baru

Teman saya, Juned, profesi utama hanya seniman cetak dan sablon kecil-kecilan.
Ia dianugerahi Tuhan skill tangan yang cekatan. Segala pekerjaan disanggupi.
Kurus tubuhnya pun tak menghalangi mengerjakan pekerjaan berat yang kadang saya saja belum sempat memikirkannya.

Tapi skill saja ternyata tak cukup di jaman teknologi ini.
Skill manualnya tergerus putaran instan peradaban.
Bisnis digital printing yang mulai marak di kota kami, nyaris mematikan usaha percetakan sederhananya.
Beruntung ia termasuk orang yang tak suka foya-foya. Jika dapat proyek, hasilnya dipakai membeli aset barang bermanfaat yang dapat menunjang usahanya.
Jika kebetulan proyeknya lumayan, barulah dipakai untuk kebutuhan tersier. Televisi dan DVD player misalnya.

Tapi apa mau dikata. Bencana datang kapan saja.
Rupanya keberadaan aset-aset berharga itu telah lama diendus orang tertentu.
Dua malam yang lalu rumahnya kemasukan maling. Asetnya nyaris tak tersisa.

Polisi pun bergerak.
Sehari setelah kejadian, televisi yang hilang ditemukan di rumah seorang warga yang jadi penadah. Tapi televisi saja yang ditemukan. Barang-barang lainnya mungkin tersebar di penadah-penadah lain.

Nah, dari keterangan yang dikorek kemudian, tersangka utama bukan orang jauh. Ia sampah masyarakat yang memang meresahkan. Kerap berurusan dengan tindak kriminal. Tapi  si “sampah” ini selalu saja bebas dengan koneksi. Tak heran, mengingat tiga saudaranya adalah aparat yang lumayan disegani.
Sudah bisa diduga. Untuk kasus yang menimpa Juned teman saya kali ini, setali tiga uang dengan kasus-kasus sebelumnya.
Si “sampah” memberi alibi. Dan seperti sudah disetting skenarionya, entah intimidasi apa yang diperoleh penadah barang tersebut hingga enteng saja mengubah keterangan. Saudara-saudara si “sampah” ikut bergerilya wara-wiri ke kantor polisi.
Polisi pun seperti dicocok hidung. Si “sampah” sumringah, bebas dengan dalih tak cukup bukti.
Ini sudah tak wajar. Saya sangat curiga hukum telah dibengkokkan di sini.
Dan siang tadi saya melihat “sampah” busuk itu tertawa-tawa menyebalkan di kumpulan anak-anak muda komplotannya.
Tinggallah teman saya Juned gigit jari.

Saya menonton televisi kemudian,
tampak berita penguasa Orde Baru berjuang antara hidup dan mati.
Semua orang pasrah mendoakannya, saya ikut mengamini.

Ia akan pergi. Mati.
itu sebuah keniscayaan.
Tapi cara-cara Orde Baru yang diwariskannya ternyata tak kan pernah mati di negeri ini.

5 Komentar

Filed under Alakadarnya

Jejak

Selamat Tahun Baru..
Hijriah dan Masehi.

Maaf, blog ini stagnan.
Saya pun menanggung beban tak berkesempatan mengunjungi blog kawan, di antara waktu yang penuh keterbatasan.
Tapi saya kan tetap menulis, dan terus menulis.
Mencipta karya hingga separuh nyawa.

Karena hidup ini seperti berjalan di pasir pantai.
Jika tak berjejak, langkah kita tak berarti apa-apa.
Dan jika jejak tak terhunjam dalam, niscaya kan tersapu ombak sia-sia.

4 Komentar

Filed under Alakadarnya