Idealisme

Saya lagi-lagi disomasi.
Somasi terkait karikatur buatan saya di koran kemarin.
Entah somasi semacam ini yang ke berapa kalinya saya terima sejak memutuskan berprofesi kartunis lebih dari lima tahun silam.

Sebenarnya ini bisa dikatakan bukan memutuskan, karena profesi ini saya anggap pilihan skak mat. Artinya, tak ada pilihan lain, setidaknya untuk saat ini. Di daerah keterbatasan seperti kota tempat saya mengais rejeki ini.

Mau jadi PNS? saya tak suka birokrasi, apalagi kepengurusan ini itu yang kadangkala mesti nepotisme dengan orang dalam.
Mau jadi militer? mungkin fisik dan mental saya tak pernah siap untuk itu.
Mau bisnis? tak ada bakat.
Saya merasa saya tak tegaan, sementara dalam bisnis dibutuhkan ketegasan untuk tega jika ingin survive.

Jadi ya sudahlah. Jalani apa adanya.
Syukuri, tepatnya. Karena begitu banyak pengangguran yang tak bisa menikmati ruangan full AC seperti saya di luar sana.

Tapi, itulah tadi.
Somasi.
Suatu hal yang sebenarnya tak perlu ditakuti, tapi juga bukan hal yang patut dibanggakan.
Mau bangga bagaimana, sementara pada dasarnya saya makan gaji dengan memberikan perasaanย tak nyaman pada orang.
Dan itu sama sekali bukan tujuan hidup yang saya impikan.

Menyoal somasi kemarin, datang dari sebuah produk yang mengaku bernama besar.
Lucu. Dan konyol sebenarnya jika dipahami akar masalahnnya, karena saya tak menyebut nama produk mereka. Jadi logikanya tak ada dasar untuk somasi.
Orang-orang berkarakter kaku dan tak punya sense of humor yang bersomasi itu sudah sangat sering saya temui jenisnya, dan jujur benar-benar menyebalkan.
Sedikitpun saya tak tertarik untuk memenangkan perdebatan dengan mereka.

Tapi redaktur pelaksana, atasan saya, mencoba bijak kemudian.
Tersirat dari sikapnya saya diharapnya meminta maaf secara personal, hati ke hati, bukan dengan katabelece kelembagaan.
Dia tak memaksa saya, tapi memberi sugesti pencerahan.
Jika katanya saya terlalu gengsi untuk sebuah kata maaf, cari kalimat yang bukan maaf tapi intinya seperti itu.
Saya bingung. Lama berfikir. Ini benar-benar dilema, karena menyangkut idealisme.

Saya belajar agama, dan saya pernah dapatkan pemahaman sederhana maslahat mudharat.
Jika dihadapkan pada sebuah persoalan, sedapat mungkin cari yang membawa maslahat, hindari mudharat.
Tapi andaikata kedua pilihan mudharat, maka ambil yang mudharatnya paling kecil.

Jika saya minta maaf, itu berarti saya mengakui kesalahan yang saya yakini tidak saya lakukan. Dan itu tentu saja membawa mudharat bagi saya pribadi.
Tapi jika berkeras hati, maka itu juga membawa lebih banyak mudharat. Melibatkan hati lebih banyak orang.
Egois rasanya jika saya memikirkan hati saya sendiri.

Pada akhirnya, masalah selesai.
Saya yang berkorban. Walau saya sadari sangat sulit mencapai derajat ikhlas untuk hal sedemikian.
Tapi yah, tak mengapa.
Toh tak ada yang menang, tak ada yang kalah.

Seorang kawan menepuk pundak saya kemudian,
“Idealisme itu baik, Ham.. Ia mencerminkan jati diri seseorang. Tapi kamu juga harus ingat, idealisme itu juga bisa buruk, jika ia harus diperhadapkan pada kemapanan.
Jadi intinya.. silahkan pakai idealisme, jika memang kamu merasa bahwa kamu sudah benar-benar mapan dalam segala hal”

Hmm.. rasanya masuk akal..!
atau saya yang bodoh..?ย entahlah..

21 Komentar

Filed under Alakadarnya

21 responses to “Idealisme

  1. benbego

    luar biasa..terkadang klo sudah menyentuh idealis rasanya memang sulit untuk mengalah, terlebih menyangkut benar atau tidaknya. Saya setuju dengan ucapan kawan pak Ham. Yang dibutuhkan memang kemapanan dulu. klo sudah mantap,lawan siapapun tak takut. Salam!

    ————————————————————————
    thanks, Mas Ben..
    wah, tersanjung nih gw disamperin blogger beken..
    btw, kok Pak Ham sih..? kesannya bapak-bapak banget dah gw, hehehe..
    ๐Ÿ˜€

  2. aha… sepakat nih… btw sayah salut tuh ama pak arham.. memilih ketidaknormalan dalam dunia —–*yang katanya* normal..
    salam kenal dulu boss
    ๐Ÿ™‚

    ——————————————-
    salam kenal balik, Nyong..
    thanks dah mampir..
    btw, abnormal itu kadang-kadang penting loh..?
    ๐Ÿ˜€

  3. lha, ada kawan saya yang bersikap idealis justru karena belum mapan. gimana neh, bro?

    —————————————————–
    wah, salam ama temannya deh, bro’..
    kayaknya gw mesti belajar ama dia nih..
    asal jangan kebalik aja, belum mapan justru karena bersikap idealis..
    hehehehe…
    ๐Ÿ˜€

  4. saya idealis banget,
    i’m smart… i’m rich and i’m happy….

    buat bung ahmad diatas, suruhlah kawan anda begaol sama saya…

    bung arham,,, tenang bos…. baru somasi,,,, bukan pengadilan akhirat ya, kan…. aye dukung bang,,, butuh lawyer bang??

    idealisme memang butuh pengorbanan. Semangat!! Indonesia butuh orang kayak gini.

    ————————————————————–

    cieeee…
    yang smart… yang rich and yang happy….
    Indonesia butuh dokter kayak gini..
    ๐Ÿ˜€

  5. humm..kalo di pemerintahan, kalo ga idealis dijamin pasti masuk ke “lubang haram”, tp kalo mo idealis pasti dilempar ke ujung Indonesia nun jauh disana, hiiiyh…

    ————————————–

    hahaha, akur… ๐Ÿ˜‰

  6. op

    Ces, menurut saya kerjaan itu dimana saja bagus asal produktifitas kita dihargai dengan adil. Nah, untuk bisa dapat kompensasi itu sepertinya tidak harus jadi PNS bukan?? Biar itu jadi jatah orang2 yang memang sukanya di situ. Bakatmu itu komersil asal pas tempatnya (ingat waktu kamu atau saudara kembarmu kerja bareng aku di CARE, bayarannya asik kan?? he..he.. itu karena mereka hargai spesialisasimu.

    Cheers

    —————————————

    tengkyu, bro’…
    yup, saya ingat sekali.. CARE itu perusahaan profesional..
    tapi untuk daerah sini kadangkala hal seperti itu (bakat komersil asal pas tempatnya) masih jarang berlaku..
    banyak tempat yang pas untuk bakat, tapi itu tadi.. penghargaan spesialisasinya kurang..
    (loh, kok saya malah curhat?)
    ๐Ÿ˜ฆ

  7. Siti Nurhaliza

    Kata Siti sih : “Jadi tua itu biasa bang, Jadi Dewasa itu luar biasa” so Abank gak perlu ragu,takut ataulah ragu untuk sebuah ke maslahatan. Cheers Siti

    —————————————-

    BRB, bentar yah..?
    gw mo pingsan dulu..
    ada Siti ngasih comment di sini..
    ๐Ÿ˜€

  8. Idealis dan realitas semestinya tidak dianggap bak kutub utara dan selatan, namun ialah sinergisitas yang baik…

    —————————————

    justru yang mesti itu yang susah, Deen..
    kalo ngerti caranya, japri ka, nah..?
    ๐Ÿ˜€

  9. lagi2 musti milih antara “ngorbanin” diri sendiri, ato orang banyak yang ikutan terlibat…

    tapi salut ko… buat ke-engga egoisannya.
    g usah khawatir deh… idealisme selalu punya tempat kok. pasti bisa nemuin ada dimana…

    ————————————————

    “idealisme selalu punya tempat kok”
    btw, alamatnya si idealisme itu di mana sih, Vi..? hehehe..
    ๐Ÿ˜€

  10. idealisme itu perlu loh, bang.
    gak peduli apa kata orang, mo berhadapan dengan apa pun, idelalisme harus selalu dijunjung tinggi
    *itu kata saya lo*
    soale, jika ada orang yang mudah sekali ngikut pada sesuatu, buat saya itu termasuk orang yang gak berpendirian
    *masih kata saya juga lo*

    ——————————————

    ahh, itu mungkin perasaan dek Yume aja..
    hihihihihi…
    ๐Ÿ˜€

  11. Ham,…
    Idealisme merupakan satu-satunya harta Berharga yg dimiliki Pemuda saat ini. Jadi, pertahankanlah Idealisme itu, sebagaimana kita mempertahankan harta kita satu-satunya.
    Mengenai kasus pada tulisan diatas, saya sangat salut dan menghargai keputusan Anda untuk meminta maaf dengan pertimbangan dari sudut Agama.

    “keep going my Friend”

    ————————————

    merdeka..!!
    heheheh…
    ๐Ÿ˜€

  12. Dimana bisa temukan idealisme sejati di dunia ini? semua hal memerlukan “timbangan”, dan kita (manusia) tidak pernah bisa menemukan kesetimbangan sempurna. Tuhan menuntun kita dengan timbangan Nurani, Agama dan Akal, maka gunakanlah ketiga timbangan itu untuk mencari titik kesetimbangan terbaik yang bisa dicapai.
    ” Tapada salama’ “

  13. hmm… kasus kaya gini emang sering kejadian =)

    istilahnya .. slalu aja ada pihak2 yang ngerasa tersinggung hanya karna ada orang yang ingin menggambarkan kebebasan berpikir -nya, alias kreativitas ..

    mnurut gw pribadi idealisme itu bukan sesuatu yang salah, tokh justru orang2 yang idealis lebih mantap dalam setiap pendiriannya ๐Ÿ˜‰

    untuk kasus bang arham sendiri, yah .. dengan keadaan seperti itu ngga ada salahnya hal itu dilakukan.
    walaupun kita meminta maaf bukan berarti kita mengakui kesalahan ada di pihak kita, anggep ajalah kita melakukan itu karena tidak ingin hal sepele seperti ini menjadi besar hanya karena ke-egoisan pihak tertentu =)

    orang2 seperti itulah yang sebenarnya telah menang ..
    *hihi..menang apaan yah ?? menang melawan ego diri sendiri kali yah =P*

    keep the spirit OK (^_^)/

  14. jadi…gimana skrg? dah selesai, masalahnya? apa jadinya?

  15. rose

    Saya rasa kalau kita menunggu kemapanan, untuk menerapkan prinsip idealisme kita, sama saja idealisme secara kedok……
    Idealisme adalah pilihan, dan kita harus siap dengan konsekwensi apapun, asal apa yang kita lakukan adalah apa yang kita yakini, dan apa yang kita yakini adalah sebuah kebenaran!

  16. pia

    ide.alis.me.
    seperti makan buah simalakama. kita hidup di dunia y tdk hanya mengenal hitam dan putih, ada banyak grey zone a.k.a. zona abu2 disekitr kita. Pi, kalo hidup selalu minta petunjuk ma Allah, yakin dan percaya kalo Sang Maha Kuasa akan menunjukx jln y t’baik..oke?(tumben, sa wise ini hari, agak2 gmana gitu..jadi malu!!)

  17. yasinta

    Idealisme sering dinilai konyol kalau tanpa kemapanan. Tapi seringkali mereka juga diam-diam dikagumi oleh banyak orang, hehehe….

  18. salam kenal bang…
    berada diantara orang2 “mapan” di saat kita baru merintis emang suka banyak halangannya bang….
    sering aku juga susah ngadepin orang2 sekitar ni…
    sesuatu yang ku yakini benar dan menurut aturan benar ternyata terlalu akku kalu mau di terapkan di masyarakat yang maunya “apa enaknya saya”

    bang boleh ngelink blognya???????
    this my blog: mikaelpunyacerita.blogspot.com

  19. Supri Holmes

    Ikut gabung ni ye…

    Klo saya sangat setuju dengan idealisme, artinya orang itu kan dah benar2 berjuaang bt kebenaranny yg diyakininya..
    saya snridi juga pengn jadi orang idealis, tapi di t4* saya, “yang idealis = di anggap sok suci”
    nahh..trus gimana ini??

  20. tERKADANG aDE KALENYE IDEALIS TU DIKESMPINGKAN DULU TUK MEMBANGUN KEBERSAMAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s