Monthly Archives: November 2007

Feng Shui

Kakak perempuan saya pekan lalu akhirnya membeli rumah.
Saya bilang “akhirnya” karena itu terwujud setelah bertahun-tahun pindah-pindah tempat kontrakan.
Sebuah rumah toko lumayan besar, sekalian dijadikan tempat buka usaha rental dan jualan komputer.
Bahagia dia tampaknya. Saya bisa merasakannya.

Masalah datang kemudian ketika dia sadari –dan juga ditambah doktrin ucapan kawannya– bahwasanya rumahnya itu dalam posisi tusuk sate, hal terburuk yang dihindari penganut fengshui. Apalagi bagi pembuka usaha.
Tak heran dia bermurung ria berapa hari belakangan.
Dan saya baru mahfum itu penyebabnya.

Saya pun marah.
Bukan karena apa, tapi saya tak mau usahanya terganggu karena pengaruh sugesti fengshui keparat itu.
Sejak lama saya memang paling sebal dengan hal-hal semacam aturan yang sifatnya dogmatis dan harga mati, dianut layaknya ideologi padahal ia tak ada dasar untuk sekadar dipercayai, pun diyakini.
Saya bahkan kerap bertengkar dengan ibu saya, karena dalam beberapa hal ibu sering mengambil sikap dengan melihat pertimbangan “pamali”.
Penghormatan leluhur, alasin klasik yang selalu dijadikan tameng.
Kualat, kata yang ditakuti, sementara saya tak pernah melihat ada bukti, kecuali hanya pada tayangan-tayangan sinetron perusak aqidah belakangan ini.

Suratan nasib rasanya konyol jika mesti ditentukan oleh hal-hal di luar aturan agama.
Dan ketika ajaran leluhur itu kontradiksi dengan ajaran nabi, patutkah masih berfikir untuk menjatuhkan pilihan?
Pamali, fengshui, dan sebagainya. Sedikitpun tak masuk akal saya.
Di qur’an tak ada.
Hadits tak ada.
Ijma atau kesepakatan ulama tak ada.
Qiyash atau perbandingan dalam segi bahasa pun tak ada.
Mau mencari di luar dari itu..?

Ahh,
saya hanya berharap, semoga marah kali ini adalah marah yang baik.

13 Komentar

Filed under Alakadarnya

Idealisme

Saya lagi-lagi disomasi.
Somasi terkait karikatur buatan saya di koran kemarin.
Entah somasi semacam ini yang ke berapa kalinya saya terima sejak memutuskan berprofesi kartunis lebih dari lima tahun silam.

Sebenarnya ini bisa dikatakan bukan memutuskan, karena profesi ini saya anggap pilihan skak mat. Artinya, tak ada pilihan lain, setidaknya untuk saat ini. Di daerah keterbatasan seperti kota tempat saya mengais rejeki ini.

Mau jadi PNS? saya tak suka birokrasi, apalagi kepengurusan ini itu yang kadangkala mesti nepotisme dengan orang dalam.
Mau jadi militer? mungkin fisik dan mental saya tak pernah siap untuk itu.
Mau bisnis? tak ada bakat.
Saya merasa saya tak tegaan, sementara dalam bisnis dibutuhkan ketegasan untuk tega jika ingin survive.

Jadi ya sudahlah. Jalani apa adanya.
Syukuri, tepatnya. Karena begitu banyak pengangguran yang tak bisa menikmati ruangan full AC seperti saya di luar sana.

Tapi, itulah tadi.
Somasi.
Suatu hal yang sebenarnya tak perlu ditakuti, tapi juga bukan hal yang patut dibanggakan.
Mau bangga bagaimana, sementara pada dasarnya saya makan gaji dengan memberikan perasaan tak nyaman pada orang.
Dan itu sama sekali bukan tujuan hidup yang saya impikan.

Menyoal somasi kemarin, datang dari sebuah produk yang mengaku bernama besar.
Lucu. Dan konyol sebenarnya jika dipahami akar masalahnnya, karena saya tak menyebut nama produk mereka. Jadi logikanya tak ada dasar untuk somasi.
Orang-orang berkarakter kaku dan tak punya sense of humor yang bersomasi itu sudah sangat sering saya temui jenisnya, dan jujur benar-benar menyebalkan.
Sedikitpun saya tak tertarik untuk memenangkan perdebatan dengan mereka.

Tapi redaktur pelaksana, atasan saya, mencoba bijak kemudian.
Tersirat dari sikapnya saya diharapnya meminta maaf secara personal, hati ke hati, bukan dengan katabelece kelembagaan.
Dia tak memaksa saya, tapi memberi sugesti pencerahan.
Jika katanya saya terlalu gengsi untuk sebuah kata maaf, cari kalimat yang bukan maaf tapi intinya seperti itu.
Saya bingung. Lama berfikir. Ini benar-benar dilema, karena menyangkut idealisme.

Saya belajar agama, dan saya pernah dapatkan pemahaman sederhana maslahat mudharat.
Jika dihadapkan pada sebuah persoalan, sedapat mungkin cari yang membawa maslahat, hindari mudharat.
Tapi andaikata kedua pilihan mudharat, maka ambil yang mudharatnya paling kecil.

Jika saya minta maaf, itu berarti saya mengakui kesalahan yang saya yakini tidak saya lakukan. Dan itu tentu saja membawa mudharat bagi saya pribadi.
Tapi jika berkeras hati, maka itu juga membawa lebih banyak mudharat. Melibatkan hati lebih banyak orang.
Egois rasanya jika saya memikirkan hati saya sendiri.

Pada akhirnya, masalah selesai.
Saya yang berkorban. Walau saya sadari sangat sulit mencapai derajat ikhlas untuk hal sedemikian.
Tapi yah, tak mengapa.
Toh tak ada yang menang, tak ada yang kalah.

Seorang kawan menepuk pundak saya kemudian,
“Idealisme itu baik, Ham.. Ia mencerminkan jati diri seseorang. Tapi kamu juga harus ingat, idealisme itu juga bisa buruk, jika ia harus diperhadapkan pada kemapanan.
Jadi intinya.. silahkan pakai idealisme, jika memang kamu merasa bahwa kamu sudah benar-benar mapan dalam segala hal”

Hmm.. rasanya masuk akal..!
atau saya yang bodoh..? entahlah..

21 Komentar

Filed under Alakadarnya