ACITA

Si tua yang konon 21 tahun berkarier jadi nahkoda itu tak pernah bermimpi kapal bermerek dagang ACITA yang dilabuhkannya bakal karam.
Bukan di tengah lautan lepas, tapi di pesisir yang notabene tak ada gelombang.
Naas, 32 orang tewas. Lebih dari separuhnya anak-anak.
Tiga diantaranya anak-anak Pak Mahmud, agen koran di tempat saya bekerja.

Habis sudah keturunan pak Mahmud.
Dan saya hanya bisa prihatin, mendoakan sekadarnya.
Tapi maaf saja, sedikitpun tak tertarik untuk sekadar menyicipi bagaimana perasaannya. Karena pasti tak berbilang sakitnya.

Saya melihatnya begitu emosi di siaran tivi tadi.
Sangat manusiawi. Walau saya tak tahu pada siapa emosi itu dia tujukan.
apakah pada kelalaian dirinya sendiri…
atau pada si nahkoda tua yang dengan angkuhnya menjejal kapalnya dengan 180 penumpang yang semestinya berkapasitas tak sampai 50 orang itu..
atau pada siapapun yang kira-kira pantas dituding bertanggungjawab atas tragedi memilukan itu.

Tuhan, jelaskan apa maksud-Mu..?
saya yakin, dia pasti bertanya begitu.
Karena pertanyaan yang sama sering saya temukan pada penghujung kejadian-kejadian yang merenggut banyak nyawa manusia.

Dan andai saya yang diminta memprediksi maksud Tuhan, akan saya katakan bahwasanya ada tiga opsi.
Kalau mungkin ia adalah kritik, berarti Alhmdulillah,
Karena kalau Tuhan berkenan mengkritik hamba-Nya itu artinya si hamba punya kans untuk lebih baik.
Kalau ia ujian, Alhamdulillah juga. Karena hanya orang yang disediakan kenaikan pangkat saja yang boleh ikut ujian.
dan andai ia hukuman, lagi-lagi mari beralhamdulillah. Karena hukuman pada dasarnya adalah pembersihan diri.

Maaf, Pak Mahmud..
Saya tegaskan, ini cuma versi saya.
Saya hanya mengajak anda khusnudzon pada Tuhan, karena sayapun tak yakin bisa mahfum pada tiga opsi ini andai saya ada di posisi anda.

Semoga anak-anak itu bahagia disisi-Nya
Amin..

Iklan

1 Komentar

Filed under Alakadarnya

One response to “ACITA

  1. Semoga mereka2 diberikan tempat yang baik. Semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan..

    sebagaimana kata iklan, “Apapun kejadiannya, jawabnya tetep Alhamdulillah” sedangkan kata Imam al Ghazali, “Yang terjadi adalah yang terbaik”. Tinggal pinter2nya kita saja mencari berlian dalam lumpur. It’s not easy tapi Dia Maha Pemurah dan sebagai seorang budak-Nya kita hanya bisa bilang, “Engkau lebih tau apa yang baik buatku, ya Allah”. Apakah pantas bagi seorang budak hamba sahaya untuk complain kepada Sang Maha Raja. Seorang bijak sempat berdoa, “Aku ini adalah budak-Mu lakukanlah kepadaku apa yang Engkau inginkan.”

    Pastinya anak2 pak Mahmud sekarang sedang bermain-main dengan para malaikat dalam Surga-Nya.
    Bagaimanakah dengan aku? Pada akhir hayatku, dimanakah ku kan berada?

    Mungkin pak Mahmud dengan kesabaran dan ketabahannya akan menerima kenaikan pangkat yang hanya Allah yang tahu seberapa tinggi kenaikan yang dia terima.
    Bagaimanakah dengan aku? Bagaimanakah kedudukanku di hadapan-Nya?

    Aku ini hanyalah budak-Mu, kepunyaan-Mu ya Allah. Lakukanlah kepadaku apa yang Engkau inginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s