Mati

Saya baik-baik saja, dan tak pernah merasa sebaik ini.
Seperti pecandu narkoba yang baru terbebas dari jeratan, dan tengah berjuang melewati sebuah masa-masa kritis..
Candu itu bisa saja kambuh, atau hilang sama sekali tergantung bagaimana saya memanage.

Ya, saya terlalu berasyik-masyuk dengan problema klasik nan bullshit yang niscaya akan saya tertawakan insyaallah pada masa-masa tua nanti.

Saya sampai lupa banyak hal-hal yang lebih butuh dan hampir luput dari perhatian seksama.
Kematian, misalnya..
Padahal kematian mengikuti kita hampir di detiap desah nafas..
Di setiap desir darah..
Dan di setiap inci denyut nadi.

Kemarin tetangga saya tiba-tiba kaku, dingin, tak bergerak sesaat setelah buka puasa.
Innalillahi..
Padahal belum beberapa saat ia masih bergurau segar bugar.

Sehari sebelumnya saya bersama ibu, saudara dan kakak ipar, ziarah ke kubur bapak.
Saya menyetir mobil, padahal saya belum begitu mahir.
Dan entah karena terlalu hati-hati atau bagaimana, tepat di depan gerbang pekuburan sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi lepas dari konsentrasi, bersamaan putaran stir saya ke arah berlawanan.
Ban berderit beradu kanvas rem.
Semua berteriak.
Nyaris saja kami sekeluaga menjadi penghuni baru pekuburan umum itu.

Ya Rabb..
Dikau Maha Tahu..
Tak mengutus suruhan-Mu mencabut nyawa saya disaat yang tidak saya inginkan.
Impian saya memang mati di bulan suci,
tapi bukan kali ini..

3 Komentar

Filed under Alakadarnya

3 responses to “Mati

  1. Subhanallah, masih dikasi umur panjang.
    Terkadang kita terlena dengan kenikmatan dunia yg sesaat jadi lupa membekali diri utk akhirat. Di bulan ramadhan inilah kita memperbaiki diri sapai 11 bulan berikutnya. Semoga kita masih bisa ketemu ramadhan tahun depan 🙂

  2. echie

    seorang wartawan Jawa Pos bilang hidup adalah “efektifitas”.. kt2 ini dia ucapkan , mungkin setelah tahu hatinya (liever) harus mengalami pencangkokan dengan resiko kematian.. mungkin..
    jika semua orang, bukan hanya yang sedang ‘sakit akut’ menyadari bahwa maut slalu menguntit, mungkin semua akan memilih menjalani hidup dengan “efektif”. meskipun efektif di sini bisa berarti banyak..
    chairil anwar mungkin merasa tlah melakukan efektifitas hidup dengan menulis sajak dan menyejarah dengannya, sebelum kemudian mati muda dengan cara yang cukup tragis (penyakit kelamin akibat gonta-ganti pasangan)..
    Gie mungkin merasa tlah melakukan efektifitas hidup dengan pemikiran, aksi serta tulisannya yang menyikat penguasa pd jamannya dan kemudian menyejarah dengan itu, sebelum kemudian mati juga dalam usia yang masih muda dalam keadaan atheis..
    tapi menurut orang lain mungkin berbeda… “efektifitas” boleh jadi berkaitan dengan hubungannya secara vertikal kpd penciptanya…
    so… how about u…??!!

  3. kalo saya ambil hikmahnya saja…
    sering2ki nyetir, supaya makin sigap..:)

    tidak ada yg lebih pasti dari kematian itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s