Monthly Archives: September 2007

Kawan

Sebaik-baik kawan adalah yang tak hanya mengajakmu tertawa, tapi juga menangis.
Tertawalah karena ternyata kita masih di dunia.
Dan menangislah, karena ternyata kita mesti pertanggungjawabkan kelak objek tertawaan di lain dunia.

Kalau kau anggap gagasan itu subyektif karena itu menurut saya, ya silahkan.
Tapi tak ada salahnya ditransfer, kan?

Saya tak katakan saya baik. Tapi saya mengajakmu baik-baik.
Mau ikut atau tidak, itu memang urusanmu.
Saya hanya kawan penjalan kewajiban.

Jadi, sama halnya ketika ada orang yang mengaku mencintaimu merajuk ”bercinta” dengan iming-iming cinta.
Pastikan itu omong kosong.
Jangan pernah tenggelam di air dangkal.
Kalaupun dia jujur, berarti dia bodoh.
Dan kalau kamu menurut, kamu tak lebih pintar dari dia.
Bagaimana mungkin dia mencintaimu sementara dia tega menjerumuskanmu?

Tapi lagi-lagi terserah..
Semua ini hanya jika kau benar yakin, bahwa memang ada kehidupan setelah mati.

Iklan

8 Komentar

Filed under Alakadarnya

Sederhana

Saya menyayangimu dengan sederhana..
Kapasitas rasa yang alakadarnya..
Bukan sebagai Adam pada Hawa..
Juga bukan Rama pada Shinta..
Atau Luis Fernando pada Maria..

Terima saja, jangan kau risau karenanya..
Saya melakukannya karena saya nyaman saat ini saja..
Peduli setan dengan apa dan siapa..
Perkara nanti itu soal masa..
Biarkan pendulum waktu bergerak pada porosnya..

Tak usah kau tanya mengapa..
Saya juga bingung dengan semuanya..
Karena rasa ini benar-benar baru adanya..
Seperti Archimedes berteriak Eureka!
Seperti Colombus menemukan Amerika..

Kau tahu siapa saya..
Dan saya tau ada dia..
Jadi tak perlu kita membuat garis segitiga..
Pastikan saja ini bukan lagi cinta yang menyala-nyala..
Sebab saya juga tak mau direpotkan dengan urusan asmara..

14 Komentar

Filed under Alakadarnya

Mati

Saya baik-baik saja, dan tak pernah merasa sebaik ini.
Seperti pecandu narkoba yang baru terbebas dari jeratan, dan tengah berjuang melewati sebuah masa-masa kritis..
Candu itu bisa saja kambuh, atau hilang sama sekali tergantung bagaimana saya memanage.

Ya, saya terlalu berasyik-masyuk dengan problema klasik nan bullshit yang niscaya akan saya tertawakan insyaallah pada masa-masa tua nanti.

Saya sampai lupa banyak hal-hal yang lebih butuh dan hampir luput dari perhatian seksama.
Kematian, misalnya..
Padahal kematian mengikuti kita hampir di detiap desah nafas..
Di setiap desir darah..
Dan di setiap inci denyut nadi.

Kemarin tetangga saya tiba-tiba kaku, dingin, tak bergerak sesaat setelah buka puasa.
Innalillahi..
Padahal belum beberapa saat ia masih bergurau segar bugar.

Sehari sebelumnya saya bersama ibu, saudara dan kakak ipar, ziarah ke kubur bapak.
Saya menyetir mobil, padahal saya belum begitu mahir.
Dan entah karena terlalu hati-hati atau bagaimana, tepat di depan gerbang pekuburan sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi lepas dari konsentrasi, bersamaan putaran stir saya ke arah berlawanan.
Ban berderit beradu kanvas rem.
Semua berteriak.
Nyaris saja kami sekeluaga menjadi penghuni baru pekuburan umum itu.

Ya Rabb..
Dikau Maha Tahu..
Tak mengutus suruhan-Mu mencabut nyawa saya disaat yang tidak saya inginkan.
Impian saya memang mati di bulan suci,
tapi bukan kali ini..

3 Komentar

Filed under Alakadarnya

DeJavu

Hampir tiga tahun yang lalu, perempuan baik itu berkata ketus pada saya lewat sebait SMS:
“Bagaimana mungkin saya meyakinkan keluarga, kalau abang sendiri tak yakin?”

Lalu semuanya berjalan horizontal, tak ada pencerahan.
Kabar terakhir, dia minta saran..
kemudian pamit, menerima lamaran seseorang yang diyakininya benar-benar yakin.
Hubungan jarak jauh itu pun kandas.
Tak ada lagi kata kita, hanya kau dan aku.

Dan semalam, insiden itu menjadi dejavu.
Dengan situasi dan kalimat-kalimat yang nyaris tak ada beda.
Saya tiba-tiba seperti bertelinga panjang, berubah menjadi keledai.
Karena hanya keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
dan kesalahan saya adalah tak juga bisa belajar dari kebodohan sistematis yang pertama.

Tapi mau berkata apa..
Nasi jadi bubur. Bubur hanya nikmat untuk orang-orang sakit.
Dan saya seperti pesakitan yang terpaksa mengunyah bubur tak enak.

Memang selalu ada kesempatan kedua, tapi sepertinya mustahil untuk peluang kesempatan ke tiga.
Walaupun kadangkala saya masih berharap ada keajaiban dari kesempatan ke tiga itu.

Teman mengirimkan pesan, kemudian:
“Ketika engkau mencintai, jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan, karena jika engkau demikian, engkau bukan mencintai, melainkan….. INVESTASI .
dan Jika engkau mencintai, engkau harus siap untuk menerima penderitaan. Karena jika engkau mengharap kebahagiaan, engkau bukan mencintai, melainkan.. MEMANFAATKAN”

Saya tersentak.
Saya rasa saya mencintainya. Bukan memanfaatkannya.
Pun saya mau menjalani, bukan berinvestasi.
Terserah itu dinilai bagaimana.
Karena saya juga amat tak setuju dengan para pecundang lemah yang berkata “Cinta tak selamanya harus saling memiliki”

Dia memang meninggalkan kaca yang pecah..
Tapi saya yakin, serpihan kaca itu masih bisa dikumpulkan.
Olehnya, ataupun bukan.

19 Komentar

Filed under Alakadarnya

Tahbis

Di kantor..

Sejak sore sebelum semalam itu, saya sumringah.
senyuman ramah datang pada berbagai arah.
Terganjar penat dengan sapaan hangat.

Kantor saya memang ramai sejak seminggu lalu.
Seremoni tahunan, -jika terlalu centil untuk disebut ulang tahun-

Semalam, puncak dari seluruh kegiatan.
Yang paling ditunggu tentu saja pentahbisan karyawan terbaik.
Karena ini bisa mengangkat reputasi, juga gengsi. Yang bermuara ke promosi.
Dan ujung-ujungnya ada di pertimbangan mulusnya naik gaji.

Semua mengisi angket, semua karyawan memilih tak terkecuali.
Tak sedikit yang lobi-lobi. Subyektif dan obyektif sudah tak lagi dipeduli.

Dan dari cerita-cerita absurd di ruang redaksi kemudian, tak pernah terbersit jika kiranya dari seratusan karyawan, saya ada di poling tertinggi, jauh dari yang lain.
Terharu itu pasti, saya dapat pengakuan sedemikian.
Itu yang membuat seharian itu ada senyum dan sapa di setiap sudut kantor.
Belum lagi SMS-SMS support.

Sumringah, saya rasa cukuplah itu saja dulu.
Karena saya takut pada tipisnya batasan bangga dan congkak.

Dan semalam..
selintas kekhawatiran itu terjadi juga.
Ternyata bukan saya yang tertinggi, juga terbaik yang diumumkan.
Melainkan ibu sekretaris redaksi. Dan saya ada di urutan bawahnya.
Kabarnya poling itu berubah di saat-saat terakhir, setelah ditambahkan beberapa angket yang baru masuk.
Kawan-kawan banyak yang terperanjat, refleks menoleh ke saya. Saya tersenyum saja.
Kecewa pasti ada. Ya, manusiawilah.

Tapi saya terlalu malas untuk sekadar suudzon dengan birokrasi dan katebelece kantor, mengingat si sekretaris memang ada kans.
Orangnya baik dan disiplin. Kinerjanya hebat. Lepas dari dia salah satu pengurus yang dipercayakan dalam penyusunan angket.

Yah, seperti jodoh dan maut, semua tertata.
Bahagia dan kecewa, niscaya tergambar maksud dibaliknya.

Dan berangkat dari kekecewaan itu, saya berusaha bisa menarik hikmah.
Mungkin saya memang perlu lebih banyak lagi memahami arti ikhlas dan bagaimana berbaik,
yang mana bukan hanya ketika ada pengakuan dan pentahbisan.

6 Komentar

Filed under Alakadarnya

Wish

Kalau Tuhan Maha Baik, beserta Maha-Maha lainnya, itu saya tahu sejak lama.
tapi kalau Tuhan Maha Membolak-balikkan hati, jujur itu saya baru sadari belakangan.

Berapa hari teranjau dalam satu labirin kegamangan, saya akhirnya menemukan keadaan dimana ternyata saya terlalu gegabah.
Padahal saya tahu hati dan perasaan sebenarnya hanya sebuah garansi semu.

Menjatuhkan serta memberi harapan pada suatu hal tanpa jaminan, ini sama sekali tak logis.
Menyuruhnya tumpahkan air yang sudah ada dalam tempayan demi menunggu datangnya curah hujan, itu juga sangat tak fair.

Bukankah waktu sehari dua hari masih tak cukup untuk mencari jarum dalam jerami..?
ya, sebagaiamana tak cukup untuk mendalami satu pribadi.
Semuanya memang berjalan terlalu instan.

Yang terbaik adalah teruslah ke depan, begitu kata si Bijak. Tak usahlah menoleh ke belakang.

Oh, tunggu.
Bijak itu relatif. Setidaknya saya lebih tahu apa yang bijak untuk saya.
Ini poin penting.

Penyakit kekhawatiran akan masa depan itu biasa,
tapi salahkah jika menyimpan kekhawatiran pada masa lalu..?
Masa lalunya, dan masa lalu saya.

Karena jangankan tahu siapa dirinya, bahkan saya belum bisa begitu memahami siapa diri saya.

Saya memang memberinya tawaran tulus tentang masa depan,
Namun toh semuanya wacana.

Lalu bisa apa kita dengan wacana..?

Jika lidahnya sulit lafalkan kata meski telah lewati seribu istikharah
Baiklah.. tak usah menunggu lama. Biarkan saya yang putuskan.
Jalani yang sudah ada, dan abaikan tawaran saya.

Saya menghargai kejujuran, tapi lebih menjunjung tinggi kepastian.
Karena plin-plan dan keragu-raguan niscaya pangkal kehancuran.

Maafkan, tapi layaknya kita bersyukur kemudian semuanya masih bermain dalam batas harapan, belum bulat menjadi keyakinan.
Karena pernikahan bukan sekadar mencari teman tidur di ranjang, melainkan hingga bangkit dari tidur di padang mahsyar.

Pada akhirnya mari kita sama-sama berdoa.
Walau doanya tak perlu sama..
karena jodoh insyaallah takkan ke mana.

Doa dimulai..

8 Komentar

Filed under Alakadarnya

Deal

Saya tanyakan, deal or no deal..?
kau jawab deal..!
seperti gurauan, tetapi bukan.
saya terlanjur anggap itu sebagai komitmen..

ya sudah,
mari kita jalani..
kebetulan saya sudah nyaris lupa bagaimana rasanya memiliki..

berpikirlah keras,
karena sepeti katamu..
hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah..

9 Komentar

Filed under Alakadarnya