Monthly Archives: Agustus 2007

Oase

Mata teduh lelaki tua musafir Kuwait itu beradu mata saya.
Jelas tak nampak gelayutan mendung..
Namun refleks saya melontar pandang ke tempat lain.
Tak sanggup rasanya.
Atau mungkin tak pantas.
Mengingat mata teduh itu harus beradu pandang dengan mata pelahap hal-hal syubhat dan tekadang haram ini.

Bibir Timur Tengahnya bergerak cepat, ditimpali ayat-ayat suci beberapa ucap.
Diselingi translate penterjemah yang sepertinya Jawa.
Kentara dari tajwid yang sesekali medok.

Saya seperti terjebak dalam situasi yang begitu tak bersetuju dengan kata hati semula.
Sholat di masjid, sebenarnya hanya itu tujuan saya.
Zikir semenit dua menit, tanpa menunggu doa berjamaah, biasanya gatal kaki saya untuk bergegas beranjak keluar.
Meski saya tau tak ada sesuatu yang penting-penting amat di luar, selain hanya pulang memelototi acara-acara konyol di tivi.

Tapi seperti tersugesti, mata teduh itu membuat saya bergeming..
Beringsut beberapa langkah, lalu memutuskan mendekat dalam lingkaran spontan yang dibentuk beberapa jamaah dengan performa serupa si pak tua.

Tertatih dia berdiri di tengah-tengah.
Ibarat sebuah api unggun, semangatnya berkobar, ucapannya meledak-ledak, tapi sedikitpun tak nampak gurat amarah di sana.
Hampir setiap kalimat ditegaskan dengan belalakan mata atau tengadah ke langit-langit, sembari melontar asma Allah.
Latah diikuti koor pengikut yang manut.

Jujur, saya tak fokus lagi pada substansi ceramahnya, toh itu hal-hal yang sudah teramat biasa saya dengar.
Amar ma’ruf nahi munkar. Yang baik dibalas surga, yang buruk dibarter neraka.

Sempat saya mengernyit, ada beberapa dalil asing di kuping. Tak disebutkan detail riwayat perawinya.
Saya bisa mafhum kemudian, karena saya lihat dia menggenggam kitab Fadhillah amal, yang saya pernah tekuni dan sedikit tahu, banyak hadits-hadits dhoif di sana.
Wallahu’alam.
CMIIW, ya Allah..

Saya diam bukannya tak peduli, tapi terlalu besar mudharat jika interupsi pada situasi yang demikian.
Biarlah si pak tua dengan tanggung jawabnya.
Toh saya hanya kagum pada pribadinya.
Dengan segala semangat yang pekat.

Jauh dari Kuwait dia datang. Khuruj istilah mereka.
Padahal usianya kepala tujuh menurut taksiran saya.

Pada akhirnya..
Malu rasanya saya pada diri sendiri.
Entah sudah berapa jauh saya sia-siakan umur menikmati futur.
Fluktuasi iman yang terpuruk seperti kurs rupiah dihantam dolar.
Selalu sepelekan mencoba satu dosa yang padahal niscaya akan memberi peluang untuk mencoba dosa-dosa berikutnya.

Tersiksa akhirnya dengan kebenaran.
Kerap menghindar dari teman-teman berjuluk ikhwan.

Sholat tak lagi pernah menenangkan.
Dikerjakan bak sebuah beban, bukan kewajiban.
Kadangkala lupa ingatan, ini rakaat tiga atau penghabisan.

Ya, pak tua itu benar-benar seperti oase di tengah gurun untuk saya..

Iklan

10 Komentar

Filed under Alakadarnya

Merdeka..

Hari ini 62 tahun lalu..
Bung Karno melafal sebuah manifesto di secarik kertas ukuran tak lebih setengah kwarto.
Maka luar biasa jadinya.
Merdekalah kita.
Pekiknya tak henti terngiang sampai detik ketika jari saya beradu huruf terakhir keyboard ini.

Dan..
hari ini setelah 62 tahun itu..
Saya sempatkan diri membaca berita.
Ada sementara orang yang sepertinya lebih layak membunuh waktu dengan berasyik-masyuk merehabilitasi gerakan kiri yang seolah-olah terdzolimi.
Ada juga yang masih disibukkan mereka-reka kepahlawanan Tan Malaka.
Setelah sebelumnya sebagian orang yang lain membuang umur menyoal lagu tiga stanza.
Reparasi sejarah, katanya.

padahal nun jauh di seberang sana
Sejarah buram tertoreh lebih kasat mata, menggelitik syaraf nurani bagi siapapun yang masih peka.

Parsiti,
pahlawan devisa kita ber“fear factor” di jendela apartemen majikan.
adegan bungee jumping yang hanya boleh ditonton pada layar tivi berlabel Dewasa, diperagakan dari lantai 17, durasi 30 menit.
Dia tertolong.
Terbata-bata dia bertutur kemudian dari bibir yang bengkak, ditingkah kerjap mata yang lebam.
Jujur sepertinya, walau sang majikan kukuh menampik tuduhan.

Parsiti, pahlawan yang belum merdeka itu bukan seorang diri yang berbuat demikian.
ada Ceriyati pendahulunya, dengan nasib serupa.
Dan mungkin ada beratus –atau beribu- Parsiti dan Ceriyati kita yang lain, tak kalah nestapanya.
Wallahu’alam..

Seupil negeri beradab yang katanya serumpun kita itu, membalas tuba setelah kita beri susu.
Sebagian dari susu gratis berupa Pulau Sipadan dan Ligitan.
Sepertinya itu tak cukup,
karena sewaktu-waktu mereka masih gemas pada teritori Ambalat.

Maka tak berlebihan jikalau Bung Karno pernah bertitah mengganyang sedemikian..

Maafkan,
saya tak maksud provokatif.
Anggap hanya emosi sesaat tapi proaktif.
Yang meleduk di momen merdeka, dan kebetulan saja.

Ah, ingin rasanya tanamkan benci pada semua tentang mereka dan negeri itu..
andai di sana tak ada Siti Nurhaliza

18 Komentar

Filed under Alakadarnya

Sakit

Tiga hari yang hambar, tanpa lembaran surat kabar.
Kopi pagi terpaksa menduda.
Apalagi sejak saya ceraikan juga dengan rokok sejak empat tahun lalu.
Kini dia benar-benar sendiri.
Berpaling ke televisi sudah tak enak.

Ini hari ke tiga mesin cetak kantor terpuruk kepayahan.
Rugi jutaan dari pasokan iklan, tak sebanding rugi moril dari kepercayaan.

Para teknisi muda nan segar yang belum lama direkrut terlihat meradang berlumur peluh, hingga berujung lempar handuk.
Sudah saya duga. Karena untuk urusan mesin pada dasarnya mereka tak punya guru terbaik, ialah pengalaman.
Sementara ilmu dan pengalaman dua padan yang paripurna.

Amma ba’du..
Phone a friend pun berlaku.
Tapi sayang, orang ahli yang diterbangkan dari jauh itu juga ternyata hanya berbekal perangkat lunak.
Datang cuma bawa otak. Sementara perkakas yang seyogyanya dipakai justru tertinggal di Makassar.
Entah karena tak mau over bagasi di pesawat atau bagaimana, tapi menurutnya semua diluar perkiraan.
Waktu dihubungi dari sini, dipikirnya hanya kerusakan kecil.
Sebuah koordinasi bodoh dari orang-orang terpelajar.

Kantor kami seluruhnya tersepuh kaca.
Melongok dari lantai tiga, darah saya jadi berdesir. Orang-orang dibawah gaduh. Ada yang mulai teriak.
Komplain, sudah pasti.
Sedikit saja ada yang memantik, bisa fatal.
Mengaku salah, persoalan takkan selesai. Alasan harus logis.
Ya, semoga saja pimpinan redaksi saya tak hanya bijak dalam menulis, tapi juga bijak saat mau tak mau frontal dengan masalah demikian.
Biar saya juga bisa lewatkan akhir pekan tanpa beban pikiran, yang mana harus berbicara soal teknis ini itu pada tetangga-tetangga saya, yang rata-rata pelanggan koran yang lebih merasakan manfaat koran sebagai bungkusan dan lapisan lemari pakaian, ketimbang bacaan.
Saya menghindari, karena saya juga teramat benci untuk menjelaskan hal-hal yang saya sendiri tak mengerti.

Sebenarnya mesin cetak itu belum usang, tapi sudah lama tak pernah rusak.
Makanya, saya sekarang mulai kuatir pada diri sendiri. Karena rasanya sudah lama juga saya tak pernah sakit.

20 Komentar

Filed under Alakadarnya

Puang

Kalender tersobek lagi. Juli berganti agustus.
Tadi sore sudah ada instruksi pak lurah, gapura kemerdekaan depan gang menuju rumah saya sesegera mungkin dirancang dibenahi.
Angka 17 agustus 1945 diganti jenis fontnya, dan dobel warnanya yang sudah mulai buram terhantam terik dan hujan.
Lumayan, ada proyek kecil-kecilan lagi. Setidaknya bisa untung dari uang cat.

Tak lupa replika bambu runcing yang menempel di gapura itu diberi pemanis darah pada ujungnya, begitu katanya.
Seolah mengesankan negeri ini didirikan hanya dengan darah – Cara membaca sejarah yang picik menurut saya.
Tapi bisa dimaklumi, mengingat lurah saya itu alumni STPDN.
Entahlah, bisa ditarik sinkronnya atau tidak.

Sedikit lepas dari itu, saya jadi terkenang ayah saya.
Bukan hanya karena bulan ini genap 10 tahun sejak dia pergi.
Tapi juga karena ayah saya seorang pejuang 45 yang mengecap jadi pejuang gerilya yang benar-benar berdarah-darah.

Kami orang Bugis menyebut ayah dengan Puang.
Jadi saya akan bertutur tentangnya dengan sebutan itu.

Puang saya sebenarnya anumerta –kalau saja ia tak keras kepala.
Sayangnya beliau berkalang tanah hanya jadi almarhum biasa.
Memutuskan keluar dari tentara tanpa prosedur yang legal. Mentok hanya di pangkat letnan.
Sedikit lebih tinggi dari pangkat yang diberikan Nagabonar pada si Bujang.

Harga diri, kata ibu saya, yang jadi satu-satunya pokok alasan Puang waktu itu.
Beliau berselisih paham dengan atasan. Yang berbuah tak ada pensiun dan tunjangan di hari tua.
Ibulah yang kemudian menggantikan perannya jadi single fighter mencari nafkah halal.

Konyol..? saya kuatir begitu..
tapi tentu saja tidak menurut Puang saya.
Darah Bugisnya yang begitu mengsakralkan ego dalam balutan kata “siri” atau kehormatan, menjadikan miskin sebagai pilihan hidup .
Tapi toh beliau menikmati menjadi orang miskin. Sebagian masih terekam dalam ingatan saya.
“Miskin itu tidak haram, Nak. Tapi ia bisa dibilang syubhat. Artinya lebih baik jangan miskin” katanya sembari tergelak.

Banyak memori yang tak lekang dan terhapus begitu saja tentangnya.
Yang saya sangat ingat, betapa saya begitu seksama menyimak cerita-cerita heroik tentangnya, baik dari beliau sendiri, ataupun dari sumber-sumber perawi yang shahih.

Dimana berondongan senjatanya membuat terbirit-birit ekstrimis-ekstrimis dalam perebutan kembali Jogja ke pangkuan Republik.
Atau kisahnya ketika menjadi anak buah Kahar Muzakkar di TNI.
Menyusup ke sarang musuh dengan menyaru anggota KNIL.
Hingga berkali-kali lolos dari maut dan menyisakan guratan-guratan semacam relief bekas peluru di kulit keriput menjelang tuanya.
Semua legenda itu kembali saya bahasakan dengan dramatis pada teman-teman saya di Sekolah Dasar dulu, sudah pasti dengan tambahan bumbu di sana-sini.

Puang saya angkatan Darat. Tapi jaman perang dulu tak ada istilah dikotomi dalam tugas.
Kadangkala ia bertindak sebagai Kopassus yang garang, sewaktu-waktu bisa jadi sniper akurat, penerjun payung handal, bahkan bisa jadi marinir yang menakutkan.
Meski tentu saja tak semenakutkan marinir-marinir pembunuh rakyat sipil di Pasuruan.

Dua orang abang saya yang mencoba mengikuti jejaknya menjadi tentara, sayang takkan pernah sanggup sepertinya.
Karena jaman hanya menuntut mereka berjuang mengepulkan asap dapur istri masing-masing.
Yah, cukuplah mereka faham arti kedaulatan dan bela negara.

Saya pernah tergelitik membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad bertajuk Tentara, yang berujar :
“….di jaman ini tentara memang harus siap diperlakukan berbeda : sebagai ornamen sebuah Republik, bak sepasukan drum band dalam parade hari kemerdekaan”
Analoginya menggelikan. Tapi ada benarnya.

Makanya, walaupun nasionalisme itu ada, tapi sedikitpun saya tak berminat mengekor langkah Puang ataupun abang-abang saya.
Saya dan seorang abang saya yang lain lebih memilih jalur hidup yang luwes dan melankolis di jalur yang amat bertolak belakang dari kemiliter-militeran.
Saya sendiri makan gaji dari menjadi komedian satir media massa.
Melawan kebijakan pemerintah dengan gambar dan tulisan-tulisan garing yang kadang sama sekali tak lucu, malah rentan menyulut emosi.
Mana nilai patriotisnya..? saya sendiri tak yakin ada.

Tapi minimal saya tetap bangga punya bapak patriot seperti Puang saya..
Puang yang begitu marah jika hanya kami pandang agustus sebelah mata tanpa seremonial sang saka di ujung tiang depan rumah.

Ya, saya bangga.
Kalau tidak, mana mungkin saya dompleng namanya pada ujung nama saya.
dan insya allah, kelak pada anak cucu saya.

18 Komentar

Filed under Alakadarnya