Batu

Dia melihat saya seolah saya ini penyanyi opera di panggung Broadway yang kenyang hingga bersendawa dengan decakan dan standing applausnya.

Padahal saya hanya ingin sebagai pengamen kecil di atas Kopaja.
Merdu atau sumbangpun persembahan itu, tetap berharap dibarter tunai, walau sekadar tiga digit angka dari berlembar lembaran di koceknya.
Bolehlah kalaupun kiranya hanya mengerling pada sudut mata atau menyumpal telinga dengan MP3.
Tapi sebisanya jangan biarkan nurani tertutup lemak-lemak mengganggu itu.

Apa tak pernah kau lihat sumringah wajah pengamen kecil ketika kau gemerincingkan bungkusan plastiknya dengan kepingan koinmu..?

“Bagus, Ham..
Kalau ini lancar, akan ada yang menyusul..
Sabar dulu ya..?
Yang ini anggap penglaris dulu.. “entengnya tadi menerima karya saya yang berpayah-payah saya buat.

Begitu kau meminta, begitu saya kerjakan..
Dan sekarang selesai, kau cuma bilang begitu, Pak..?
hey, hallooo…
Jelaskan padaku, terminologi sabar bagaimana yang kau maksud..?

Silahkan kalau mau jadi manusia batu,
tapi please..
jangan jadikan jaman ini jaman batu.

3 thoughts on “Batu

  1. untuk pengamen di makassar
    tampaknya saya harus membatu,ham

    karena pengamennya disini
    beda sama ditempat lain
    sangat memaksakan kehendak …

  2. hehehe mending kalo dgn wajah memelas
    tp kalo dgn mata melotot
    pengamen seperti ini tipikal preman
    mending kasih duit sj
    ato kalo sanggup berkelahi hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.