proud

Dia resign lagi dari kantor yang belum genap sebulan ditempati.
Entah ini untuk yang ke berapa kalinya sejak mengambil sikap menetap di Ibukota dua tahun silam.
Padahal yang kudengar tempo hari, gajinya sebagai graphic designer di kantor terakhir itu mencapai nominal 5 juta.
Nilai yang fantastis setidaknya menurut saya untuk ukuran karyawan baru.
Nyaris lima kali lipat dari gaji saya di sini.
Dan mengingat skill serta performa, saya sudah sempat yakin karirnya bakal terus menanjak.

Abang saya itu memang sedikit labil. Satu sifat yang bisa jadi seonggok parasit pada pohon kecerdasan.
Itu yang membuat saya sebal, walaupun saya juga terkadang begitu.
Saya hanya tak ingin sifat itu mendarah daging.

Kami pernah kost bersama di Jakarta sebelum akhirnya saya memutuskan kembali ke daerah dengan sebuah alasan klasik. Ibu tak ingin anak-anaknya jauh di hari senjanya.
Sebagai bungsu, saya mengalah. Dan abang saya tetap di sana.

Yang saya ingat betul, dia tak pernah menetap pada satu pekerjaan.
Siang berkutat dengan pekerjaan, malamnya sibuk berkutat membolak-balik halaman klasika koran Kompas sabtu, mengais-ngais lowongan baru.
Manusiawi memang, tak pernah puas bertualang itu wajar. Ada ribuan seperti itu di Jakarta.
Tapi manusiawi juga jika saya agak kecewa dengannya yang demikian itu seolah tak menghargai air mata kepercayaan ibu dan lebih memilih bermain-main dengan nasib.
Berharap hujan di langit, air di tempayan ditumpahkan.

“Kenapa lagi, Bang..? Gaji berapa lagi sih yang dicari..?” tanya saya ketus di Yahoo Mesenger, malam kemarin.

Saya tercekat kemudian.
Menyesal sendiri dengan pertanyaan retoris itu, setelah mendengar klarifikasi darinya.
Kali ini katanya bukan soal gaji. Tapi hal prinsip yang sensitif.
Dia dicaci-maki dengan kalimat tak layak oleh atasan art director yang Korea itu di depan semua karyawan hanya karena meninggalkan pekerjaan tak sampai 10 menit untuk kewajiban SHALAT ASHAR.

Saya menerawang.
Ayah kami sebelum direnggut malaikat maut pernah berpesan, anak-anaknya boleh menjadi bawahan tapi jangan jadi kacung, apalagi kacung yang sampai menggadaikan akidah.

I proud of you, brother..
Cukuplah untuk kali ini.

Dan ayahpun pasti tersenyum bangga di sana.

Iklan

11 Komentar

Filed under Alakadarnya

11 responses to “proud

  1. om….mo protes…wekekekke..

    linknya sendal jepit bukan sandal jepit!!!
    g nyambung dah tuh kan??

    wekekek…

  2. jadi “tersadarkan” yah… orang banyak men-samadengan-kan kepuasan dengan nilai rupiah yang didapet… tapi sbenernya lebih banyak hal2 lain yg jauh lbh penting dibanding itu…

    beruntung banget deh.. py abang se-luar biasa itu… salut…

  3. Bang, meski sy tdk bharap alami kejadian yg sama dgn Abangmu..tapi sy pun kan lakukan hal yg sama jika berada dlm kondisi tsb.

    Hidup memang penuh pilihan.. tapi pilihan terbaik adalah mengikuti “suara hati”

    Salam dari jiwa,

  4. wisosa

    Sip lah…

    PROUD OF YOU…

    moga dapet yg lebih barokah, Amin.

  5. wasky

    Ya Alloh ya Robi, pindah ke sini toh.
    Salut sama bang arham yang rajin nulis
    (Kapan gw punya ya?)
    Salut jg buat abangnya,

    btw thanks masih ingat diriku.

  6. bang, isi blog ini serius smw y??
    tapi deep 🙂

  7. abangnya guantengg bow ….
    sayang dah ada yg punya …
    telat dah gua ..hihihihi

  8. @Diant
    Udah diganti tuh, Bro..
    heheh, thank koreksinya.. 😉

    @Vdeez
    nggak luar biasa kok neng, biasa-biasa aja..
    yang luar biasa itu adiknya..
    wihihihi.. 😀

    @Ahsan_Lau
    Salam dari jiwa, juga Mas..
    makasih udah mampir..
    ntar saya mampir balik sekalian ngelink blognya.. 😉

    @Wisosa
    Syukron, bu Aji..
    hehehe..
    Proud of U, too.. 😉

    @Life_love
    sumur kali deep 😛

    @Ella
    belum telat, neng..
    adiknya kan belum..
    *wink 😀

  9. Hiks ceritanya….
    Bisa di terbitkan boss, “sup ubi untuk jiwa”

    Keep writing!

  10. Saya menerawang.
    Ayah kami sebelum direnggut malaikat maut pernah berpesan, anak-anaknya boleh menjadi bawahan tapi jangan jadi kacung, apalagi kacung yang sampai menggadaikan akidah.

    bener…
    masih banyak rizki di Bumi Allah yang maha luas ini…

  11. huheuheuheu
    SpeechlessKa cezt:)
    i’m proud of you too for this nice story. inspiring banget:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s