Maret 23, 2008

Sampul

“Maaf, Bang.. sebenarnya saya kepingin beli,
tapi… sampulnya itu, Bang..
maaf ya..? takut ntar diliat teman-teman saya, dikirain buku apaan..”

Itu bukan satu-satunya teguran pembaca buku saya,
sebelumnya di Yahoo Messenger, ada juga yang demikian:
“Afwan, sampulnya itu bukan Akhi, kan..? kalau bukan, alhamdulillah..”

Ahh, terima kasih semuanya..
thanks..
syukran..
memang kritik itu yang saya harapkan..
karena pujian saja hanya kan membuat terbang, hingga kadang lupa daratan..
padahal kritikan dan pujian adalah satu kesatuan yang memberi warna suatu penciptaan,
selama penciptaan itu adalah buah tangan makhluk Tuhan..
bukan masterpiece langsung dari Tuhan..

Jujur, terbersit keinginan ingin menjelaskan bahwa sampul itu hanya rekayasa,
teknologi lah yang membuat itu seolah badan asli saya, walaupun bukan..
tapi toh apa gunanya..? buku itu kadung beredar, entah sudah berapa eksemplar..
pada teman-teman, baik mereka yang tersentuh agama, ataupun bukan..
dan mustahil saya mesti menjelaskan satu-persatu akan hal itu..

maafkan saya, kawan..
jika kesempurnaan yang kalian harapkan, reject saja saya dari friendlistmu, karena jelas itu bukan saya..
saya begini adanya.
complicated.
hari ini begini, besok begitu..
masih terus mencari tujuan hidup,
yang tentunya saya harapkan bisa saya temukan sebelum nafas tercekat di tenggorokan..

saya hanya ingin membuat gembira..
mencipta gelak tawa..
bukan niat bisnis belaka..

kedengarannya seperti alasan pembenaran, tapi insyaallah bukan..
karena berdosalah kiranya saya, jika menikmati rupiah dari suatu yang ternyata buruk dampaknya..

“dont judge a book by its cover” itu memang kiasan,
tapi cobalah sekali-sekali maknai secara harfiah juga..

Maret 9, 2008

Jakarta Underkompor

Alhamdulillah, satu resolusi tercapai..

buku saya sudah terbit, walau independen dan limited edition..

Jakarta Underkompor

berhubung di sini dilarang jualan, silahkan kunjugi blog saya yang lain.

Hehehehe…

Maret 5, 2008

Jujur

Memalukan!

Kalau yang agung saja begini, lantas bagaimana dengan yang tak agung?
Entah masih sakralkah label agung di sini.

Ya, inilah satu lagi potret memalukan hukum kita pasca era yang katanya reformasi,
setelah penguasa orde baru tak tersentuh,
hutan dijarah oleh oknum yang tak terjamah,
dan dalang pembunuh Munir yang masih sumir.

Ada yang berdalih, jangan sama ratakan semua aparat. Ini cuma satu dari sekian banyak.
Yang jujur juga kan banyak!
Oke, tapi bolehkah saya juga berdalih, bukankah ini juga cuma satu dari sekian banyak yang melakukan demikian tapi tak ketahuan?
Berteriaklah kalian tentang keadilan, tapi kenapa maling ayam dihakimi hingga mati, sementara perampok berdasi dikasih hati ?
Kenapa di sana ada yang mati kelaparan karena susahnya duit seribuan, sementara di sini ada yang buncit kekenyangan karena suapan duit miliaran?

Ah sudahlah, kalau sudah budaya, ya mau bagaimana?
Lagipula, mungkin masih bisa dengan sangat terpaksa diambil sisi manusiawi saja.

Dalam beberapa kesempatan, saya, anda, dan juga kita, mungkin sering tak jujur.
Walaupun itu hanya sebatas persoalan bertutur, ataupun ego yang terbentur. Bukan karena takut hidup tak makmur.

Berdoa saja kita tak mati dalam keadaan tak jujur.
Karena yakinlah kawan, ada kubur dan jazad yang hancur, setelah proses keniscayaan uzur.

memalukan!

Februari 20, 2008

Alzheimer

Hampir tiga hari saya tak mandi.
Hal yang sama sekali tak penting untuk dibahas, tapi setidaknya ini sudah lumayan mengkhawatirkan bagi saya.
Mungkin tak lama lagi saya bakal mati duduk. Bukan syahid diantara dua sujud, tapi karena candu komputer keparat ini.
Berhari-hari berkutat dengan monitor dan keyboard. Buku pertama saya sedikit lagi rampung. Satu atau dua hari lah.
Teman yang saya percayakan negoisasi dengan percetakan, sudah deal harga bagus. Jalan saya sepertinya mulus.

Tapi banyak hal yang harus dibarter untuk itu. Termasuk diri sendiri yang tak lagi terurus.
Alhamdulillah, belum sampai tahap amnesia untuk membedakan waktu azan zuhur dan ashar. Juga belum sampai terserang Alzheimer untuk urut-urutan rukun wudhu, walaupun saya sebenarnya mulai takut untuk hal yang satu itu, mengingat saya sering blank untuk urusan menghapal nomer telepon, ataupun kelimpungan mencari di mana tempat saya barusan meletakkan kunci motor atau handphone.

Entah, sudah berapa hari saya tak frontal dengan cermin. Yang saya rasakan janggut dan cambang mulai awut-awutan, ketombe berguguran.
Tampaknya saya memang harus segera menikah, biar ada yang mengingatkan.
Lagian saya juga mulai bisa melupakan bayang-bayangnya, saat terakhir melihatnya di Empat Mata, tempo hari.

Ya, ini momen yang tepat untuk menikah. Sebelum saya benar-benar terserang Alzheimer.
Tapi masalahnya…
calonnya siapa ya? :(

Februari 12, 2008

Alfredo

Saya menonton tayangan ulang interview dia di Kick Andy.
Ternyata si pemberani nan malang itu saat status buron pernah empat tahun tinggal di sini,
di kota saya,
kota yang kecil,
kota yang bukan hal mustahil jika anda berkeliling dan kemudian berpapasan dengan orang yang sama lebih dari sekali dalam satu hari.

Atau, jangan-jangan saya pernah berpapasan dengannya..?
Tuhan yang tahu.
Tapi mengingat empat tahun bukan kurun waktu yang sedikit, itu bisa saja benar.

“Saya memutuskan begini, karena pemerintah sudah melenceng tujuan..”
kurang lebih begitu ucapnya di tayangan itu.
“Mereka ingin mengubah haluan negara menjadi komunis” lanjutnya lagi, gahar ekspresi.

Dia mati kemarin pagi.
Kalau saja yang dikatakannya itu tak hanya isapan jempol saja,
berarti saya salah satu orang yang kehilangan dia.
Peduli setan dengan urusan negaranya,
saya hanya peduli dengan semangat perlawanannya.

Februari 10, 2008

Dendam

Lima tahun silam, saat saya masih karyawan baru,
saya punya cerita dengan bapak petinggi itu.

Mulanya berawal curhat soal kesejahteraan pada sesama karyawan.
Biasalah sebenarnya,
tapi entah bagaimana hingga curhatnya sampai ke telinga bapak itu.
Dia merespon ketus, “Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Lewat teman saya kalimat itu diucapkan, bukan secara langsung,
tapi seolah langsung menghunjam tajam ke jantung saya mendengarnya.
Saya merasa dilecehkan.
Sangat. Karena itu profesi saya. Itu skill saya.
Saya diberi Tuhan skill itu sebagai anugerah.
Dan saya digaji perusahaan atas anugerah itu.

Berhari-hari kalimat itu terngiang,
membuat saya nyaris resign dari pekerjaan.
Ibu, saudara, dan teman membujuk kemudian,
Sugesti mereka seragam: jangan kalah oleh opini samar yang belum tentu benar!
Ya, dan saya coba bertahan.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu saya simpan, saya jadikan motivasi hingga entah kapan.
Motivasi yang sebenarnya terbalut dendam.
Yang awalnya hanya tekad agar bapak itu menjilat kembali ludahnya.

Pendulum waktu bergerak,
kinerja saya berjalan di grafik yang baik menurut penilaian perusahaan.
Alhamdulillah, semua memang butuh proses.
Dan saya tak lagi sekadar menjalani, tapi juga menikmati proses itu.
Dimana karya-karya saya perlahan punya segmen pembaca tersendiri.
Apalagi setelah saya berprestasi dalam suatu lomba skala nasional.
Terbukalah mata mereka, bahwasanya saya ada,
dan bukan sebagai penggenap ruang kosong belaka.

Lima tahun berjalan.
Kami perluas jaringan. Dibangun satu anak perusahaan koran.
“Koran tanpa karikaturpun, tetap koran kok namanya!”
Kalimat itu masih juga terngiang,
Seiring dengan diangkatnya bapak pencipta kalimat itu jadi pimpinan anak perusahaan yang baru dibangun tersebut.

Mereka bergerilya, merekrut satu demi satu.
Wartawan dan redaktur semua sudah siap.
Tapi sepertinya ada yang masih mengganjal.
Koran baru itu terasa hambar, hanya berita tak ada gambar-gambar.
Mereka kesulitan mencari tenaga karikatur di kota kecil ini.
Akhirnya diputuskanlah meminjam saya. Untuk batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Sebenarnya saya bisa menolak jika saja saya mau.
Tapi itu tidak saya lakukan.

Kemarin bapak itu mendekat ke meja saya,
Minta dibuatkan karikatur untuk sebuah halaman korannya.
Saya memenuhi permintaannya dengan tersenyum geli.
Semoga dia masih ingat kalimat lima tahun silam.
“Koran tanpa karikatur pun, tetap koran kok namanya!”

Saya memang sudah memaafkannya walaupun tak terucapkan,
malah saya berterima kasih, karena sebenarnya dia pelecut kinerja saya.
Tapi entah kenapa kalimat itu tak kunjung hilang dari ingatan.

Ah, tampaknya saya harus berkeras mengubur dendam.
Karena dendam hanya ada sinetron Indonesia dan film India.

Februari 3, 2008

Gembel

Hampir jam dua ketika saya memacu roda dua.
Menembus pekatnya malam, di antara mendung menggantung dan lengangnya jalanan.

Tetap di kantor tak akan membuat saya lelap,
sementara saya sakit-sakitan akhir-akhir ini lantaran tidur yang tak cukup porsi.
ya, saya harus segera pulang.

Gerimis mulai turun satu-satu, perih menghantam kulit.
Kota ini seperti mati suri.
Hanya satu dua orang bercumbu dengan angin malam di emperan.
Ada tukang becak bermain remi, beberapa di antaranya membentuk formasi,
dipersatukan botol yang pastinya berkadar alkohol.

Saya undur gigi kemudian ketika melintasi dua sosok.
Seorang perempuan paruh baya tertatih memanggul karung,
ditemani anak kecil mengais sampah dari tong dan selokan.
Gerimis berubah menjadi curah, saya pun memutuskan parkir di tribun pinggiran trotoar.
Perhatian saya tertuju dua sosok itu dengan seksama.

ya Tuhan, ini jam dua malam!
Si tua sah-sah saja mencari nafkah, tapi anak itu layakkah berada di situ?
Dia sekitar tujuh tahun menurut taksiran,
seumuran ponakan saya yang mungkin saat ini sudah nyenyak memeluk boneka dibalik selimut hangat, dibuai mimpi cita-cita yang tinggi.

Ditingkah langkah-langkah lambat mereka mendekat.
Seingat saya di saku jeans ada sepuluh ribu rupiah kembalian bensin.
Uang sejumlah itu kadang saya remehkan, tak tersisa sekali jajan.
Saya menunggu si kecil bergerak ke tong sampah tribun, lalu lembaran itu saya sodorkan.
Si kecil mengernyit, ragu-ragu dia merapat.
Saya membaca gelagat, wajarlah di situasi begini waspada pada orang jahat.
Lama jeda ketika saya yakinkan. Hingga sorot matanya berbinar kemudian.
“Makasih Om!” lirihnya.
Girang, itu sudah pasti dirasakannya. Tapi lebih bergemuruh bahagia di dada saya.

Ibu Muslimah di buku Laskar Pelangi berkata:
“Habiskan sisa hidupmu dengan banyak memberi, bukan banyak menerima.”
ya, kadangkala memang ada kenikmatan tak berperi dalam sebuah pemberian.

Allah ya Rabbi,
kiranya jadikanlah motivasi buat pembaca tulisan ini,
Andaipun riya tak terhindari, biarkan saya tanggung dosa sendiri.

Januari 29, 2008

Setengah Tiang

Dia pernah membawa kemakmuran
dengan swasembada pangan
mestinya ini jadi cambukan
mengingat sekarang nasi aking pun dimakan

Tuhan sudah menutup keburukan
tak layak kita naikkan ke permukaan

soal hukum urusan negara saja
mari berdoa lapangkan jalannya
kelupas kerak benci di dada
ikhlaskan walau sementara

karena apalah arti setengah tiang
jika dikibarkan setengah hati

Januari 18, 2008

SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah

*tulisan ini dimuat di Surat Kabar Harian Kendari Pos, edisi 20 Januari 2008

Saya baru pulang dari mengantar ibu saya mengunjungi kerabat. Kerabat yang anaknya tewas tragis, tertimpa reruntuhan tembok pagar sekolahnya.
Anak itu sebelas tahun, belum juga memasuki masa transisi pra remaja ke remaja.
Ibunya hampir pingsan ketika kembali menceritakan kronologis peristiwa pada kami. Saya tak sampai hati melihatnya.
Ngobrol sebentar dengan suaminya, saya pamitan dan bergegas menuju TKP yang tak begitu jauh dari rumah duka.

Suasana sekolah lengang. Kabaranya diliburkan imbas peristiwa itu.
Tampak puing-puing beton bekas reruntuhan yang masih basah terhantam hujan deras semalam. Batu batanya meleleh, merah seperti genangan darah, bercampur air hujan yang terus mengalir hingga bermuara ke selokan. Seolah ingin mengenyahkan kenangan buruk yang baru saja terjadi di situ.

Saya duduk, menjamah sisa-sisa puing yang ada, sembari mencoba menarik kesimpulan subyektif penyebab runtuhnya tembok.
Basic saya arsitek. Sarjana arsitek. Walaupun bertahun-tahun sudah saya mengkhianati disiplin ilmu, tapi setidaknya sedikit banyak saya masih paham bagaimana struktur dan konstruksi bangunan, juga agregat standar untuk sebuah tembok yang kokoh.
Untuk bangunan seperti sekolah, apalagi SD, tak perlulah kiranya membangun tembok pagar layaknya tembok Berlin Jerman Barat atau tembok ratapan di Israel. Toh, anak-anak SD belum sampai kadar jenuhnya untuk melompati pagar tembok kalau kiranya merasa terkungkung dengan rutinitas sekolah.
Jadi membangun kecil-kecilan saja cukuplah, asal anggaran pas, peruntukannya jelas.
Yang saya lihat tembok itu masih sangat jauh dari layak. Pondasinya keropos, tiang kolomnya pun tak bertulang. Jangankan menahan beban dorongan misalnya. Ditendang saja pasti ambrol.

Saya prihatin. Sekolah itu masih cukup bagus, masih jauh lebih memprihatinkan dibandingkan gambaran sekolah masa kecil Andrea Hirata di Laskar pelangi.
Tapi ada hal-hal vital di sekolah itu yang sepertinya tak terurus.
Pihak sekolah menuding itu bukan kompoten mereka. Tembok itu milik sekolah SMP yang berseberangan dengan sekolah tersebut dan sudah berkali-kali diusulkan perbaikan di Diknas. Entahlah, masih bijakkah mencari kambing hitam jika telah menuai korban.
Berbagai pihak pun mulai ribut menyoal tindakan antisipatif. Tapi untuk saat ini apa gunanya? secanggih apapun antisipatif itu, jika baru dipikirkan pasca peristiwa tak akan membuat nyawa si korban kembali. Ibarat alat pendeteksi tsunami yang dibeli miliaran rupiah namun tak akan menghapus sejarah kelam bahwa negeri kita pernah terhantam badai tsunami.

Tak bisa dipungkiri gubernur terpilih kami, populer ke permukaan setelah menyuarakan visi misi pendidikan gratis. Ribuan simpatisan pun mengelu-elukan. Dan jika dikaji mendalam, program itu memang logis. Apalagi mengingat dana sektor pendidikan di negara ini mengenaskan.
Tapi ketika diperhadapkan pada peristiwa di atas maka sewajarnyalah jika mulai mengemuka pertanyaan: jangankan gratis, pihak sekolah yang makan gaji, injeksi dana BOS, dan iuran siswa pun masih tak memperhatikan kelayakan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, lantas bagaimana jika gratis?

Ya, bertambah satu lagi daftar panjang carut marut dunia pendidikan kita.
Dan tak berlebihan jika Eko Prasetyo, mengatakan:
“SEKOLAH itu akronim dari Sejuta Kilo Masalah !”

Januari 16, 2008

Orde Baru

Teman saya, Juned, profesi utama hanya seniman cetak dan sablon kecil-kecilan.
Ia dianugerahi Tuhan skill tangan yang cekatan. Segala pekerjaan disanggupi.
Kurus tubuhnya pun tak menghalangi mengerjakan pekerjaan berat yang kadang saya saja belum sempat memikirkannya.

Tapi skill saja ternyata tak cukup di jaman teknologi ini.
Skill manualnya tergerus putaran instan peradaban.
Bisnis digital printing yang mulai marak di kota kami, nyaris mematikan usaha percetakan sederhananya.
Beruntung ia termasuk orang yang tak suka foya-foya. Jika dapat proyek, hasilnya dipakai membeli aset barang bermanfaat yang dapat menunjang usahanya.
Jika kebetulan proyeknya lumayan, barulah dipakai untuk kebutuhan tersier. Televisi dan DVD player misalnya.

Tapi apa mau dikata. Bencana datang kapan saja.
Rupanya keberadaan aset-aset berharga itu telah lama diendus orang tertentu.
Dua malam yang lalu rumahnya kemasukan maling. Asetnya nyaris tak tersisa.

Polisi pun bergerak.
Sehari setelah kejadian, televisi yang hilang ditemukan di rumah seorang warga yang jadi penadah. Tapi televisi saja yang ditemukan. Barang-barang lainnya mungkin tersebar di penadah-penadah lain.

Nah, dari keterangan yang dikorek kemudian, tersangka utama bukan orang jauh. Ia sampah masyarakat yang memang meresahkan. Kerap berurusan dengan tindak kriminal. Tapi  si “sampah” ini selalu saja bebas dengan koneksi. Tak heran, mengingat tiga saudaranya adalah aparat yang lumayan disegani.
Sudah bisa diduga. Untuk kasus yang menimpa Juned teman saya kali ini, setali tiga uang dengan kasus-kasus sebelumnya.
Si “sampah” memberi alibi. Dan seperti sudah disetting skenarionya, entah intimidasi apa yang diperoleh penadah barang tersebut hingga enteng saja mengubah keterangan. Saudara-saudara si “sampah” ikut bergerilya wara-wiri ke kantor polisi.
Polisi pun seperti dicocok hidung. Si “sampah” sumringah, bebas dengan dalih tak cukup bukti.
Ini sudah tak wajar. Saya sangat curiga hukum telah dibengkokkan di sini.
Dan siang tadi saya melihat “sampah” busuk itu tertawa-tawa menyebalkan di kumpulan anak-anak muda komplotannya.
Tinggallah teman saya Juned gigit jari.

Saya menonton televisi kemudian,
tampak berita penguasa Orde Baru berjuang antara hidup dan mati.
Semua orang pasrah mendoakannya, saya ikut mengamini.

Ia akan pergi. Mati.
itu sebuah keniscayaan.
Tapi cara-cara Orde Baru yang diwariskannya ternyata tak kan pernah mati di negeri ini.