Jika ada hal yang saat ini membuat saya mengutuk diri sendiri, mungkin itu terjadi berapa tahun silam.
Keluarga kami hidup sangat sederhana waktu itu.
Dihari tuanya, almarhum ayah saya -yang keluar dari TNI secara ilegal- memilih beralih profesi menjadi imam dan penghulu kampung.
Secara finansial, tak banyak yang bisa diharap dari seorang penghulu.
Praktis ibu sayalah yang mesti kreatif. Di pundaknya terbebani tanggung jawab berapa orang anak yang masih sekolah, termasuk saya.
Ibu berdagang keliling. Door to door dari kampung ke kampung menjajakan kain dan properti rumah tangga kecil-kecilan. Tak jarang ia berjalan kaki seharian demi lembaran rupiah yang tak seberapa.
Tibalah suatu ketika. Dimana saya masih SMP.
Masa-masa transisi dari pra remaja ke remaja. Layaknya tipikal pemuda tanggung kebanyakan yang tinggi gengsi dan masih menomorsatukan hura-hura.
Pola pikir sempit yang belum tertempa kerasnya sistem survive dunia.
Berbaur dan bergaul dengan anak-anak orang mampu, seolah menuntut saya untuk sensitif dalam persoalan strata.
Saya sedang ramai berkumpul dengan teman-teman sekolah saat itu. Bersenda gurau, ketika sesosok perempuan paruh baya berjalan sedikit tertatih melintas tak jauh dari sekolah saya. Dua tangannya menenteng beban kantung besar. Sesekali istirahat menyeka peluh.
Tak terbilang perasaan saya saat menyadari perempuan itu ibu saya. Mata saya refleks bersirobok dengan matanya.
Ibu tampak terhenyak. Ia membuang muka, salah tingkah. Sembari tergopoh-gopoh berlalu dari situ.
Saya hanya menunduk, dan enggan melihatnya hingga hilang di kejauhan.
“Kalau tak salah, itu ibu kamu kan..?” tanya seorang teman yang kebetulan mengenal ibu saya. Saya tak menjawab, dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dada saya sesak. Bergemuruh.
Saya iba, tapi juga geram.
Marah, tapi tak jelas marah pada apa dan siapa.
Bukan pada ibu saya. Tapi mungkin pada nasib dan keadaan.
Pulang sekolah saya langsung tidur. Tak lama, antara sadar dan tidak sebuah tangan lembut membelai rambut saya.
Saya tau itu tangan ibu, tapi saya tetap berpura-pura tidur.
Belaian yang lain dari biasanya. Belaian yang seolah mewakili sebuah permintaan maaf yang tak terucap.
Maaf dari orangtua yang tak sanggup membahagiakan anaknya dengan kecukupan materi. Karena memang materilah standar kebahagiaan anak seperti saya saat itu.
Mungkin saja ibu menangis saat membelai itu, tapi saya biarkan.
Saya biarkan membelai saya hingga saya benar-benar lelap.
Waktu bergulir.
Ayah saya berpulang dengan tenang. Ibu otomatis semakin membanting tulang.
Status single parent tak membatasi langkahnya terus bekerja hingga saya berhasil dijadikannya sarjana.
Tak terasa anak-anaknyapun mulai mandiri satu persatu.
Abang saya banyak yang sudah berkecukupan dan terbilang mapan. Dari hasil patungan abang-abang saya kemudian, ibu saya bisa melangkah ke tanah suci seperti impiannya sejak lama.
Saya tak ingat jelas kapan ibu saya berhenti berdagang.
Yang pasti, pulang dari berhaji itu ia sudah mulai tak kuat lagi berjalan jauh.
Kemarin, saya mendapati perempuan tangguh itu tergolek lemah.
Bibirnya sedikit bengkok. Dokter mendiagnosa stroke ringan.
Kami semua cemas. Terlebih saya sebagai anak bungsu yang punya ikatan emosional dengannya.
Saya sangat menyesal dulu pernah menyimpan perasaan malu menjadi anak seorang pedagang keliling.
Memori saat ibu melintas di depan saya dan teman-teman SMP itu terus menghantui pikiran saya.
Andai waktu bisa terulang, ingin saya katakan pada satu persatu teman-teman saya itu dulu, bahwasanya saya bangga punya ibu sepertinya.
Saya menyayanginya, seperti ia mengasihi saya.
Saat tamat kuliah saya pernah merantau dan bekerja di ibukota. Tapi panggilan nurani memutuskan saya kembali ke kampung halaman.
Ibu tak meminta, tapi tersirat dari nasihat-nasihatnya ia ingin menghabiskan masa-masa tua tak jauh dari anak-anaknya.
Semalam, pulang kantor saya memacu motor di antara gerimis.
Mata saya basah. Air yang berasal dari pelupuk mata berbaur dengan air hujan.
Sudah lama saya tak menangis. Entah kapan terakhir, tapi kali ini saya benar-benar menangis.
Ibu memesan susu kedelai kesukannya. Setelah berkeliling di supermarket dan apotik, saya dapat juga susu pesanan itu.
Saya ingin cepat-cepat pulang. Saya ingin segera tiba di rumah dan melihatnya sumringah dengan susu pesanannya.
Ya Allah, saya benar-benar takut kehilangannya.
Saya tak ingin apa-apa lagi saat ini. Saya hanya ingin melihat dia tersenyum dan baik-baik saja.
Andai Tuhan izinkan, saya ingin terus bersamanya hingga ajal tiba.
Entah ajalnya, atau ajal saya.


& Komentar
April 21, 2008 pukul 12:16 am
Bang, sedih bener ceritanya!
Sampai tak terasa sudah deras air mata ini mengalir ketika membaca ini!
Saya YAKIN…ibu abang pasti SANGAT BANGGA punya anak-anak hebat seperti abang!
—————————————-
arhamkendari:
thanks, Bro’..
jujur, saya juga kembali berkaca-kaca saat menuliskan ini..
set dah, masa preman nangis..? malu ah ama jenggot..
April 21, 2008 pukul 1:51 am
Dear Arham,
Gw jg pernah punya masa lalu yang sama, malah hampir mirip malah, cm di tambah ibuku yang “sakit ” setelah divorce sama bokap. Yang penting semangatnya sekarang !!! Gimana kita bisa survive dan ngebuktiin sama dunia bahwa kita ga jadi “sampah” setelah dapet cobaan seperti itu. Sekarang saatnya buktikan bahwa kita adalah “orang” dalam arti sesungguhnya. Orang yang bisa memberi dalam kekurangan. Insya allah malah nanti dapat kelebihan….. Amin.
April 21, 2008 pukul 2:15 am
Selamat Hari Kartini!
April 21, 2008 pukul 2:39 am
ibu…
emang sosok yang tidak bisa dilupakan segala bentuk pengorbanan nya..
semoga tercapai…
semoga tercapai apa yg elo harapkan Ham..
April 21, 2008 pukul 7:36 am
yah, abang ini. bikin keinget ama ummi di kampung aja.
(^_^)v
ga nangis sih, soalnya dah ga bisa nangis. tapi keknya hati ini sesak. nangis mungkin hati ini. hehe.
biar bagaimanapun, dialah ummiku. beliaulah yang mengandung dan melahirkanku.
semangat terus, bang! kudoakan, semoga abang dan ibu abang selalu dibarakahi oleh Allâh. semoga panjang umur!
(^^)
April 21, 2008 pukul 10:43 am
mom , i love you mom .
Tuhan berikanlah selalu yang terbaik buat ibu dan ayahku
amin
April 22, 2008 pukul 2:52 am
Ibu memang selalu jd yg terkuat setelah seluruh anggota keluarga melemah. Ibu saya pun begitu, ketika thn lalu Bpkq pensiun, ibulah yg kreatif mencari pemasukan alternatif, biar uang pensiun Bpk ga cepat habis. Biar adik2 yg masih sekolah bisa tetap nyaman belajar. Sedangkan aq?? Selaku anak pertama lum bisa berikan banyak
Dirimu masih mending abang, pastilah ibundamu bangga. Tetap semangat yah….Anak yg sholeh adl asset u/ orang tuanya.
April 22, 2008 pukul 4:50 am
jah! ham! sedih dah bacanya…jd ngerasa anak durhaka nih, selalu keras sama nyokap sendiri, selalu nganggep nyokap gak ngertiin anaknya, selalu nganggep nyokap old skul pemikirannya, padahal bokap juga udh tenang diatas sana, dan mudah2 an gak murka sama anak nya yg durhaka ini hikss…..padahal sekarang setelah ngalamin jadi seorang “ibu” br kepikiran gimana kl kita digituin sama anak kita ntar….huuaaaa…..mamaaaa love u much!!!!!
April 22, 2008 pukul 7:31 am
baru sekarang gw dibikin berkaca-kaca sampe netes neh air mata haru sm om arham…
Saat tamat kuliah saya pernah merantau dan bekerja di ibukota. Tapi panggilan nurani memutuskan saya kembali ke kampung halaman.
Ibu tak meminta, tapi tersirat dari nasihat-nasihatnya ia ingin menghabiskan masa-masa tua tak jauh dari anak-anaknya.
gak ada menu Quote ya disini, paragraf diatas, bikin gw mikir lagi nih buat terus bertahan di Jakarta, meski deket ortu semua di Bandung, tapi gak pulang weekend aja kelimpungan nyariin… hiks gw doa yang sama, “Tuhan, ijinkan saya terus bersama ‘mereka’ hingga salah satu ajal kami tiba”
April 22, 2008 pukul 7:40 am
padahal gue udah yakin banget gak bakal nangis baca postingan lo, ham
secara baru aja hatam buku jakarta underkompor lo
tapi gak sadar gue nangis juga
hiks, jadi inget makk
April 22, 2008 pukul 8:50 am
Baca ‘Ibu’ bikin tenggorokan saya jadi sakit. Nahan tangis! Di warnet soalnya. Rame pula. Kenalkan,
new comer
April 22, 2008 pukul 8:55 am
“there is no other love
like a mother’s love fo her child……”
-celine dion-
Saya sudah kehilangannya, Ibu saya!
Sakit sekali rasanya,
saya berharap abang tak akan pernah mengalaminya!
saya berharap tidak seorangpun mengalaminya,
Jaga Ibu-mu, Bang!
Jangan pernah tinggalkannya!
Jangan pernah berhenti cintainya!
April 22, 2008 pukul 11:42 am
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Om, Ka’ Bank, Kanda ato apalah namanya
wee sedih skali ka baca ki
astagfirullah, kenapa ki bisa kaya gitu dulu,
tapi alhamdulillah kita kaya gini skarag,
Dia pasti bangga skali ma kita skarang
behhhh, ndda tau sa mau kagum, mau benci, saya mau …. bilang apa lagi ma kita
tapi mungkin ada cara lain kita bisa bahagian Dia
seperti …
beh masih belum kering air mataku, jadi ingat mamaku yang hanya seorang tukang jahit,
thanx u po’
April 22, 2008 pukul 11:54 am
Oom MASIH SEDIH KA
LAIN KALI JANGAN KI NULIS KAYA’ GINI NAH
April 23, 2008 pukul 3:34 am
mustinya ni postingan “dijual” per paket ham. Paket tulisan yang bisa dibaca, plus tissue, atau saputangan yang bisa dipesen pakai sulaman nama yang baca
Bagus!!!
April 24, 2008 pukul 9:02 am
ass.
April 24, 2008 pukul 9:03 am
kak samaka nayah
sedihnya ceritanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakodongnya……………….
jadi sedihhhhhhhhhh,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
wasalam
April 24, 2008 pukul 9:08 am
salut
April 24, 2008 pukul 9:12 am
Syafakillah buat Ibu..
Speechless ja’ baca tulisanta’… :’(
April 25, 2008 pukul 7:21 am
Semoga cepet sembuh, Emaknya Bro, Gw setuju nih. Harusnya ente jual tissue juga.
Syafakillah Emak.
April 25, 2008 pukul 7:30 am
Terima kasih sudah mengingatkan kita semua, terkadang kita semua suka mendurhakai orang tua, baik ayah atau ibu, sadar atau tidak sadar. Semoga Alloh SWT memberi kita kesempatan memperbaiki kesalahan kita semua selama ini. Amiin, TFS ya mas.
April 25, 2008 pukul 7:32 am
Arham, tabah ya… semoga Ibu segera sembuh… Beliau pasti bangga dengan anak2nya yg hebat2…
April 25, 2008 pukul 7:34 am
T__T
semoga ibunya cepet baekan ya bang…
April 25, 2008 pukul 7:43 am
wah semoga ibunya bang arham sehat2 saja…
kmrn tgl 12 ayah saia berpulang…sekarang jg tinggal ibu saja….
hehehehe…yg patuh ma ibu akang surga mah di telapak kaki ibu…
*dapet salam jg dari mpok denok
April 25, 2008 pukul 7:54 am
Semoga ibu diberikan kesembuhan dan kekuatan ya Ham… amiin
April 25, 2008 pukul 7:57 am
Tul banget kt dapit handsome (plizz dehg)….
sama aku jg tinggal ada mamih doang….jadi di sayang sayang ya ibu nya….
moga pet sembuh ibu nya bang….:)
turut berdoa jg buat kesembuhannya…..
April 25, 2008 pukul 8:01 am
Bukankah surga dibawah kaki ibu, sahabat?
Semoga disisa umur kita mampu membahagiakan mereka. Semoga Ibu Arham cepat sembuh,amin.
April 25, 2008 pukul 8:25 am
aiiihhh.. jadi rame ginih..
duh, maluuuw…
hihihi..
April 25, 2008 pukul 8:26 am
moga ibu bang Ham.. dikasih kesembuhan ma Allah SWT….aamiin….
April 25, 2008 pukul 8:37 am
jangan tobat sambel ya Ham.. hehehehehe, kasih ibu sepanjang jalan….. kasih anak sepanjang kutang.. uppssss
April 25, 2008 pukul 8:52 am
jadi terharu membacanya bang..
saya jadi teringat ibu yg jauh di kampung..
”Allahummaghfir lii wa liwaalidatta warhamhumma kamaa rabbayaani shaghiiraa.”
April 25, 2008 pukul 8:55 am
bang maaf tuh tulisan doanya hurupnya keliru ‘TT’ mau mencet ‘YY’..sambil nangis nih…
April 25, 2008 pukul 9:19 am
Bang Arham, kisah yang menyentuh, bikin saya terharu dan kepikiran sama ibu sendiri (jadi pengen buru2 pulang dan cium tangan dan minta maaf dan bilang ‘cannot live without u’ kepada beliau)
TFS, bro!
*hug*
April 25, 2008 pukul 11:13 am
Perasaan malu dengan kehidupan yang lalu kerana kesempitan…ternyata sanggup menoleh muka kebelakang demi kesalahan yang hendak ditebus..lumrah hidup manusia…yang tidak disengajakan dan tidak menerima hakikat tapi alhamdulilah belum terlambat lagi untuk membaikinya kerana saudara belum ada tanggungan sama sekali maksud saya bernikah..nah!masih ada waktu lagi untuk membalas jasa-jasa ibu saudara..buat pengetahuan saya sebagai bapa atau orangtua hanya menjalankan perintah ALLAH kepada kita..iaitu tanggungjawab dan sebagai orangtua tidak mengharapkan balasan dan memberi wang setinggi gunung pun tidak akan dapat membayar pergorbanan dan kasih-sayang….itu sebab sebelum bernikah harus ada ilmu supaya kita tidak akan lupa pada diri sendiri serta keluarga tercinta..saya harap saudara menluangkan lebih banyak masa dan mencari kesempatan untuk bersama ibu tersayang apabila saudara ada masa terluang dan buatlah mereka bahagia..perasaan beliau akan meresa lega dengan adanya saudara dan prihatin terhadap beliau sedikit banyak akan menlupakan keadaan atau penyakit beliau hadapi…sekurang-kurangnya kita dapat merawat masa dan membuat beliau gembira buat masa ini..salam memberi lebih banyak perhatian pada ibumu…
ini ada puisi untuk ibu saya yang terpulang kerahmatullah tapi saya ingin memberi kepada ibumu sebagai satu mesej iaitu kasih sayang..
Khas buat ibu ku…hanya tinggal kenangan didalam hati aku..
Ibu kesayanganku…
Kaulah adalah wanita pertama dalam hidupku
Senyumanmu memberiku kebahagiaan menempuh hari demi hari
Kelembutan dan tutur katamu memberi ketenteraman buat jiwa ku
Kasih sayang yang ibu curahkan bagaikan air terjun mengalir tanpa batasan..
Ibu kesayanganku…
Aku merasa rindu ketika aku bersendirian didalam kamar sepi…
Ketiadaan ibu menunjukan sepinya hidup tanpa belaian sanibarimu terhadap ku
Masakan ibu bagaikan hidangan diistana raja…
Tangisanku selalu didalam hati dan tiada siapaku berkongsi..
Ibu kesayanganku..
Perpisahan terjadi bagaikan semalam berlaku
Seperti embun hilang ketika matahari terbit
Kasihmu terhadap diriku membawa seribu erti
Kehilanganmu ku tetap ingat kekal abdi…
Puisi ini aku buat khas untuk ibu tersayang dan curahan rasa memberiku lebih tenaga untuk terus menrinduimu..alangkah bahagia dapat bertemu ibu dikala sunyi dan sedih,sebagai memberi serta berkongsi..tapi ibu dijemput oleh Maha Esa…ALLAH…semuga ibu dilindunginya dan roh ibu dicucuri rahmat selalu hingga hari kiamat kelak…amin..
April 26, 2008 pukul 12:49 pm
speachless kk… jadi ingat waktu ibunya ikyul sakit, sedihh..
INSHA ALLAH ibu’ ta cepat baikan kk..
April 28, 2008 pukul 3:31 am
luu siii postingnya sedih2 amatt, jadi rame kaann….ayoo posting yg seneng2 lg ajah!! tp teteuupp doa dr gue, kei & kenz utk ibu yaaa ^_^ cepet sembuh yaaaaaaa…..
April 28, 2008 pukul 6:36 am
jadi ikut nangis….
semoga ibu bang arham cepat sembuh ya….
April 28, 2008 pukul 6:47 am
ibu….
hiks…
Smoga selalu diberi kesehatan buat ibu kang Arham dan ibu2 dimanapun…
April 28, 2008 pukul 8:11 am
Hal2 yg terpikir setelah membaca “Kisah” ini :
1. ArhamKendari bisa jg serius dan membuat hati ter’iris’
2. MamaPapa..aq bangga jd anakmu..slalu dan slamany
3. Air mata tertahan dipelupuk mata
4. Bersyukur, kedua orang tua ku masi ada dan sehat
5. Kasian Bang Arham…(Koq kasianny t’akhir y??hehe)
Moga cepet sembuh Ibunda Bang Arham…
dan buat bang Arham ‘Jakarta Underkompor’ two tumbs up..Awsome Job!!ditunggu berikutnya…
btw fotonya bang arham ga bgt ci…bikin nelen ludah…
peace (^,^)v
Keep On Rock!!
April 28, 2008 pukul 4:18 pm
tawwa rame na!
om ka tawwa kasi nangis ana’nya orang
uus uus uus
diam ya sayang
udah nanti tante beliin permen ya
diam ya
he he he
eh tapi bener
postingan kali ini
sumaph bener2 bikin gw terharuh
tapi ndda nangis ka gang …
April 29, 2008 pukul 1:03 pm
hiks…kalo biasa di bikin tertawa minimal senyum ma postingan bang arham…tapi kali ini aku di bikin terenyuh…jadi ingat ama ibu…juga ingat kebandelan2 ku dl….hiks…maaafin aku ya bu ….huaaaaaa……
April 30, 2008 pukul 3:22 am
ma’denne uwae matakku, bro… semoga ibu-ta’ cepat sembuh.
saya ingat waktu bapakku sakit, dan dia minta dibelikan kripik emping melinjo. saya lagi di Kerinci waktu itu. Saya lalu pulang ke Jakarta keliling ngubek-ngubek pasar, begitu ketemu saya langsung ke Bone. Sampai di rumah Bapak cuma makan sedikit. bapak sudah melemah waktu itu. Tapi saya bahagia, setidaknya saya bisa memenuhi sedikit keinginannya di saat2 terakhirnya…
April 30, 2008 pukul 5:18 am
I love you, mom…
April 30, 2008 pukul 2:36 pm
ihiik..seringnya kita lupa ya ma sosok mulia seorang ibu, seberapa besar pengorbanannya dan seberapa mandirinya beliau sehingga cenderung jarang ingin meminta bantuan kepada anaknya, sedang kita, lebih sering meminta daripada memberi, hiks.. ibuu.. maaf..
*dah lama banget ga bekunjung kesini, rindu pulaa.. :p *
Mei 2, 2008 pukul 11:20 am
terharu….
top markotop lah
arham….
terharu….
oh ibu….
ampuni anakmu yg tidak tahu terima kasih ini…..
Mei 3, 2008 pukul 1:44 am
*spechless*
nda tau ka mesti ngomong apa hikz hikz
jdi rinduka sama mace huaa
btw, gmana mi kabar nya ibu ta?
Mei 6, 2008 pukul 11:03 am
Klo wkt SMP itu Sy tmnnya Bang Arham, Sy omelin abis2 abang lho!Bener…, malah bisa2 gw yang gutuk abang jadi kingkong…(pantesan agak mirip, jangan2 gr2 kutukan gw ya)Ga tau diri bgt si jadi orang, ampe malu ma ibu sendiri. Ibu sy jg dagang, sayuran malah…dan dg bangga saya ikut2 bawain dagangan beliau keliling kampung…ga ada yg ngeledekin, malah bnyk yg muji…rajin lha, soleh lah..dll
ada cerita tmn krj juga yg demi ngebantu nyokap nya dagang sayur keliling dan sekarang sdh jd pejabat di slh satu kantor pemerintahan.
Pokoke apapun dia, siapapun dia JANGAN pernah malu ngakuin ortu kita..
Nyokap gw PEDAGANG SAYUR KELILING dan sekarang alhdullh sdh haji dan pensiun dg nyaman, dan bokap gw TUKANG BAJAJ dan mereka berdua sayang dan mau berjuang buat anak2nya termasuk gw.
Btw salam buat ibunya, i always love all mother in the world who keep fighting for children. i love u all!
Mei 6, 2008 pukul 11:07 am
tes
Mei 12, 2008 pukul 3:44 am
bisa nulis serius juga toh..
btw..terharu baca tulisan yg ini
semoga ibu sehat selalu yah
amin
Mei 14, 2008 pukul 1:40 am
ah..menyentuh sekali cappo..
sebuah masa lalu yang memang “memalukan”..
tapi, syukurlah sekarang Arham sudah jadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tua…semoga untuk selamanya cess..
doa kami bersama Ibu-mu..
semoga cepat sembuh..bisa sehat kembali dan bisa melihat putra bungsunya menikah..
Aminn..
Mei 15, 2008 pukul 9:52 am
Insya Allah segera diringankan bebannya ya Bang……
Mei 17, 2008 pukul 1:41 am
Assalaamu’alaykum…
Tulisan adek bikin saya menangis. Jauh dari kampung halaman… jauh dari Ibuku (di kota Makassar) membuat saya sepenuhnya merasakan ketakutan kehilangan “surga” itu. Semoga Ibunya Arham diangkat segala penyakitnya… Aamiin! Saya ikut mendoakan beliau…
Mei 20, 2008 pukul 8:08 am
jadi kangen mama..
*sambil nahan air mata supaya nggak jatuh lagi hari ini*
Mei 20, 2008 pukul 10:06 am
salam berpikir merdeka dari bandung
maafkan aku, artikelmu menggungga jiwaku, jangan tanya kenapa
Mei 27, 2008 pukul 4:41 am
mirip-mirp pengalamanku juga.pi, hubugan ma mama agak on-off, kadang baik..kadang burukk. sering mi sa tinggal di luar (kendari) bela, jadi kurang kuat kontak batin dgn mamaku.
Pi, baca tulisan ini, bikin sa menangis, padahal lagi dikantor, jadi malu..
Mei 28, 2008 pukul 4:59 am
thanks atas tulisannya
aku jg sangat sayang sama mamaku..
aku jadi seperti sekarang karena peran beliau yang sedikit banyak membentuk kepribadian, pola pikir n wawasanku. Walaupun jauh dari mama, aku berusaha tak hilang kontak dengannya..
Juli 25, 2008 pukul 5:08 am
gila lu ham….
aku nangis sedih banget
secara ampe lupa bayar ongkos warnet….
set dah….
Juli 31, 2008 pukul 3:35 am
Ibu saya berpulang ketika saya lahir, bertukar napas dengan saya …. seandainya beliau ada mungkin saya tidak sendiri sekarang.
Ya ALLAH, sampaikan salam saya untuk Ibu, katakan bahwa sekarang saya sudah dewasa.
Agustus 4, 2008 pukul 4:00 pm
orang sabar dissayang ama tuhan lho…..
Agustus 12, 2008 pukul 8:38 am
Selain humoris, ternyata Arham juga sayang sekali pada Ibu, salut banget.
Saya menangis baca postingan ini, terharu banget. Selain juga ingat dengan almarhum ibu saya.
Selagi bisa, bahagiakanlah ibu ya.
Agustus 28, 2008 pukul 3:01 am
hu…hu…hu…
aduh jadi sedih jg…
semua org tua rela berkorban demi anak nya,
tapi knp kadang ada anak yg tak rela berkorban demi orang tua nya
semoga mrk di bukakan pintu hati nya oleh allah
dan mengampuni dosa orang tua kita semua
amin….
Agustus 31, 2008 pukul 9:04 am
ga tau mau ngomong apa…
bang arham tau apa yg langsung saya lakukan…
saya langsung ambil HP dan menelpon ibu…tp aneh saya gagu dan hanya terisak…karena sampai sekarang saya rasa belum mampu membahagiakan ibu……makasih unt pelajaran moralnya…
Agustus 31, 2008 pukul 10:30 am
Sumpah, one sampe nangis bacanya. Semua hal yang ada hubungannya dengan sosok ibu, selalu buat one berkaca2.
Btw, kesukaan one sama dengan ibu bang arham. Susu kedelai. Yummy….
September 15, 2008 pukul 3:54 am
makasih mas arham…
aku jadi sadar..
Mak….
Herman janji gak ngulah lagi…..
September 17, 2008 pukul 6:14 am
Duh….jadi inget bundaku…
Trims artkelnya nyentuh banget…
Desember 1, 2008 pukul 6:46 am
tulisannya tentang ibu sangat bagus n mengesankan.
andai semua anak seperti itu………..
tak ada lagi air mata tertumpah dari pelupuk matanya.
sungguh ibu manusia teladan setelah Rasulullah
Maret 6, 2009 pukul 11:31 pm
Cappo..
makasi bnyak..
aku sampe nangiss baca ini..
ternyata sangat berartinya seorang “Indo”.,
kak aku ingin ketemu sama kak Arham, aku lebih ngefans sm ka arham.
Setela aku slsai membacanya..dalam hatiku berkta “adempengalaloka kasi..”
Maret 14, 2009 pukul 7:38 am
assalamu’alaikum
April 2, 2009 pukul 6:24 pm
wah ham sy salut ma ente.
ane jg punya nasib yg sm kayak ente ham. bedanya, ane kagak malu. ibu ane jualan kue yg dititipin ke toko2 sejak ane SD-SMA. nah yg nganterin ane.
tapi dri hasil itulah, semua anaknya Alhamdulillah sarjana semua.
pesan ane, jaga dan rawatlah beliau selagi masih ada, karena pesan org tua ane sebelum keduanya berpulang ke sisiNya adalah ” KITA BARU MERASAKAN ARTI KEBERADAAN SESEORANG, SETELAH ORANG TERSEBUT TIDAK ADA LAGI”
dan pesan tersebut SANGAT BENAR ADANYA.
semoga ibunda Arham sembuh separti sedia kala dan dapat menikmati kebersamaan dengan anak-anak dan cucu beliau.
Aminnnn….