Saya ikut mengantar jazad itu hingga ke liang lahat siang kemarin. Jazad mertua teman saya.
Butuh perjuangan untuk mencapai lokasi kuburannya.
Tak bisa dicapai dengan kendaraan.
Kami mendaki bukit terjal. Bebatuan kadang rontok di tengah perjalanan. Diiringi teriak-teriakan tertahan, karena ada saja yang tergelincir.
Saya tak masalah, toh saya tak ikut menggotong. Tapi saya kasihan melihat mereka yang bermandi peluh.
Si penggali kubur yang tampak payah sekali, karena yang digalinya bukan cuma tanah keras, tetapi juga batu gunung.
Mencangkul, memahat. Ia tak ubahnya seperti seorang arkeolog yang mencari fosil.
Apa boleh buat, jenazah yang sudah siap, mesti menunggu hingga galian maksimal.
Prosesi pun molor hingga sore.
Aneh, pikir saya.
Kubur itu sendiri. Tak ada kuburan lain di situ.
Apa gerangan di benak orang-orang ini.
Sudah begitu sempit kah lahan pekuburan hingga tak ada alternatif selain tempat tak masuk akal itu?
Kita dari tanah, kembali ke tanah.
Tanah ya tanah. Di bukit terjal itu dan di bawah sana namanya tetap tanah. Jadi kenapa bersusah-susah?
Ternyata masalahnya tak sesederhana itu.
Wasiat, katanya. Si jenazah yang minta demikian sebelum berpulang.
Saya jadi berpikir, andai dia minta dikuburkan di Mekkah, mestikah dikabulkan juga atas nama wasiat..?
Entah kenapa, saya tiba-tiba bergidik.
Saya membayangkan jazad kaku itu saya.
Ah, jangan Tuhan..
Saya belum punya amal jariyah. Apalagi anak shaleh yang mendoakan.
Sudah cukup kiranya hidup telah banyak menyusahkan.
Kelak mati, semoga dalam keadaan tak menyusahkan.


11 Tanggapan
April 9, 2008 pukul 11:37 pm
alangkah gelapnya kesadaran kita tentang masa dan tempat dimana kita akan berkubang, padahal betapa terang pengetahuan kita tentan tempat dan masa itu.
hanya karena kita jarang menengok riwayatnya di sebuah tempat yang bertulis, dan berusia lapuk..
aih, sedihku menuliskan ini…
aga kareba cappo’?
maelo laddengka usedding maelli book ta’ (JUK), tapi deppagaga kesempatanku makkiring dui…maega ladde jamakku kesi’na..
April 10, 2008 pukul 6:14 am
kemarin ada pengajian setelah sholat dhuhur di masjid kantor. membahas ttg kewajiban2 apa saja yg harus dilaksanakan kaum muslim sepeninggalan si mayat. salah satunya mengenai wasiat.
pak ustadz menjelaskan, kalo misalnya si mayat berwasiat untuk dikuburkan di suatu tempat, misalnya minta dikuburkan di tanah kelahirannya, maka ada ada pertimbangan:
sepanjang mudah dilaksanakan, mampu untuk menguburkan di tempat tersebut, aman perjalanannya (dah kek mo pergi haji aja), maka harus dilaksanakan. tapi kalo tidak aman, tidak mampu, maka boleh tidak dilaksanakan.
itu yang saya tangkap kemarin.
(^_^)v
April 10, 2008 pukul 6:21 am
kematian memang pengingat terbaik ya k…
April 10, 2008 pukul 6:49 am
dulu juga saya pernah liat ada makam yang diatasnya bertaburan sobekan kartu2 remi, ada wajik, king, dsb..nya.. ternyata itu juga wasiat yang punya makam. konon dulu dia punya hobi berjudi.
trus di bone, ada makam petta battae dan istrinya yang posisinya melintang ke arah barat, berlawanan dengan makam2 lain yang membujur ke utara. Katanya itu juga wasiat si empunya makam supaya dibedakan dengan keturunan2nya…
April 10, 2008 pukul 1:25 pm
humornya ekstravagant banget
humor kelas eksekutif bukan tukang becak
wish u all the best
April 14, 2008 pukul 2:13 am
ham… mau titip wasiat dari sekarang gak? hehe…
kakak yang satu ini, apapun bisa jadi sumber “inspirasi”
April 15, 2008 pukul 3:03 am
Kematian adalah wasiat yang tak teruangkapkan. Nasihat yang hanya diam.
April 15, 2008 pukul 3:40 am
melihatmu mengantar jenazah mertua ust. **** bersama para ikhwah, membuatku berpikir….
akankah antum kembali bersama2 ikhwah seperti beberapa tahun yang lalu….?
semoga mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu.Amin…..
April 16, 2008 pukul 11:33 am
saya juga selalu ngeri setiap dateng ke pemakaman, ngebayangin kalau mayat itu…. adalah saya..
April 19, 2008 pukul 4:25 pm
kalo inget kematian dalam keadaan yang jauh dari amalan padaNya gini, suka gimanaaa gitu…
semoga kematianku tidak merepotkan sekitar [-o<
Mei 18, 2008 pukul 7:57 am
tapi bila semua yang kau minta kau miliki sanggupkah kau memutuskan janjimu?
i doubt it buddy.