Januari 18, 2008...5:52 pm

SEKOLAH = Sejuta Kilo Masalah

Lompat ke Komentar

*tulisan ini dimuat di Surat Kabar Harian Kendari Pos, edisi 20 Januari 2008

Saya baru pulang dari mengantar ibu saya mengunjungi kerabat. Kerabat yang anaknya tewas tragis, tertimpa reruntuhan tembok pagar sekolahnya.
Anak itu sebelas tahun, belum juga memasuki masa transisi pra remaja ke remaja.
Ibunya hampir pingsan ketika kembali menceritakan kronologis peristiwa pada kami. Saya tak sampai hati melihatnya.
Ngobrol sebentar dengan suaminya, saya pamitan dan bergegas menuju TKP yang tak begitu jauh dari rumah duka.

Suasana sekolah lengang. Kabaranya diliburkan imbas peristiwa itu.
Tampak puing-puing beton bekas reruntuhan yang masih basah terhantam hujan deras semalam. Batu batanya meleleh, merah seperti genangan darah, bercampur air hujan yang terus mengalir hingga bermuara ke selokan. Seolah ingin mengenyahkan kenangan buruk yang baru saja terjadi di situ.

Saya duduk, menjamah sisa-sisa puing yang ada, sembari mencoba menarik kesimpulan subyektif penyebab runtuhnya tembok.
Basic saya arsitek. Sarjana arsitek. Walaupun bertahun-tahun sudah saya mengkhianati disiplin ilmu, tapi setidaknya sedikit banyak saya masih paham bagaimana struktur dan konstruksi bangunan, juga agregat standar untuk sebuah tembok yang kokoh.
Untuk bangunan seperti sekolah, apalagi SD, tak perlulah kiranya membangun tembok pagar layaknya tembok Berlin Jerman Barat atau tembok ratapan di Israel. Toh, anak-anak SD belum sampai kadar jenuhnya untuk melompati pagar tembok kalau kiranya merasa terkungkung dengan rutinitas sekolah.
Jadi membangun kecil-kecilan saja cukuplah, asal anggaran pas, peruntukannya jelas.
Yang saya lihat tembok itu masih sangat jauh dari layak. Pondasinya keropos, tiang kolomnya pun tak bertulang. Jangankan menahan beban dorongan misalnya. Ditendang saja pasti ambrol.

Saya prihatin. Sekolah itu masih cukup bagus, masih jauh lebih memprihatinkan dibandingkan gambaran sekolah masa kecil Andrea Hirata di Laskar pelangi.
Tapi ada hal-hal vital di sekolah itu yang sepertinya tak terurus.
Pihak sekolah menuding itu bukan kompoten mereka. Tembok itu milik sekolah SMP yang berseberangan dengan sekolah tersebut dan sudah berkali-kali diusulkan perbaikan di Diknas. Entahlah, masih bijakkah mencari kambing hitam jika telah menuai korban.
Berbagai pihak pun mulai ribut menyoal tindakan antisipatif. Tapi untuk saat ini apa gunanya? secanggih apapun antisipatif itu, jika baru dipikirkan pasca peristiwa tak akan membuat nyawa si korban kembali. Ibarat alat pendeteksi tsunami yang dibeli miliaran rupiah namun tak akan menghapus sejarah kelam bahwa negeri kita pernah terhantam badai tsunami.

Tak bisa dipungkiri gubernur terpilih kami, populer ke permukaan setelah menyuarakan visi misi pendidikan gratis. Ribuan simpatisan pun mengelu-elukan. Dan jika dikaji mendalam, program itu memang logis. Apalagi mengingat dana sektor pendidikan di negara ini mengenaskan.
Tapi ketika diperhadapkan pada peristiwa di atas maka sewajarnyalah jika mulai mengemuka pertanyaan: jangankan gratis, pihak sekolah yang makan gaji, injeksi dana BOS, dan iuran siswa pun masih tak memperhatikan kelayakan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, lantas bagaimana jika gratis?

Ya, bertambah satu lagi daftar panjang carut marut dunia pendidikan kita.
Dan tak berlebihan jika Eko Prasetyo, mengatakan:
“SEKOLAH itu akronim dari Sejuta Kilo Masalah !”

10 Tanggapan


Tinggalkan Balasan