Agustus 1, 2007...11:05 pm

Puang

Lompat ke Komentar

Kalender tersobek lagi. Juli berganti agustus.
Tadi sore sudah ada instruksi pak lurah, gapura kemerdekaan depan gang menuju rumah saya sesegera mungkin dirancang dibenahi.
Angka 17 agustus 1945 diganti jenis fontnya, dan dobel warnanya yang sudah mulai buram terhantam terik dan hujan.
Lumayan, ada proyek kecil-kecilan lagi. Setidaknya bisa untung dari uang cat.

Tak lupa replika bambu runcing yang menempel di gapura itu diberi pemanis darah pada ujungnya, begitu katanya.
Seolah mengesankan negeri ini didirikan hanya dengan darah – Cara membaca sejarah yang picik menurut saya.
Tapi bisa dimaklumi, mengingat lurah saya itu alumni STPDN.
Entahlah, bisa ditarik sinkronnya atau tidak.

Sedikit lepas dari itu, saya jadi terkenang ayah saya.
Bukan hanya karena bulan ini genap 10 tahun sejak dia pergi.
Tapi juga karena ayah saya seorang pejuang 45 yang mengecap jadi pejuang gerilya yang benar-benar berdarah-darah.

Kami orang Bugis menyebut ayah dengan Puang.
Jadi saya akan bertutur tentangnya dengan sebutan itu.

Puang saya sebenarnya anumerta -kalau saja ia tak keras kepala.
Sayangnya beliau berkalang tanah hanya jadi almarhum biasa.
Memutuskan keluar dari tentara tanpa prosedur yang legal. Mentok hanya di pangkat letnan.
Sedikit lebih tinggi dari pangkat yang diberikan Nagabonar pada si Bujang.

Harga diri, kata ibu saya, yang jadi satu-satunya pokok alasan Puang waktu itu.
Beliau berselisih paham dengan atasan. Yang berbuah tak ada pensiun dan tunjangan di hari tua.
Ibulah yang kemudian menggantikan perannya jadi single fighter mencari nafkah halal.

Konyol..? saya kuatir begitu..
tapi tentu saja tidak menurut Puang saya.
Darah Bugisnya yang begitu mengsakralkan ego dalam balutan kata “siri” atau kehormatan, menjadikan miskin sebagai pilihan hidup .
Tapi toh beliau menikmati menjadi orang miskin. Sebagian masih terekam dalam ingatan saya.
“Miskin itu tidak haram, Nak. Tapi ia bisa dibilang syubhat. Artinya lebih baik jangan miskin” katanya sembari tergelak.

Banyak memori yang tak lekang dan terhapus begitu saja tentangnya.
Yang saya sangat ingat, betapa saya begitu seksama menyimak cerita-cerita heroik tentangnya, baik dari beliau sendiri, ataupun dari sumber-sumber perawi yang shahih.

Dimana berondongan senjatanya membuat terbirit-birit ekstrimis-ekstrimis dalam perebutan kembali Jogja ke pangkuan Republik.
Atau kisahnya ketika menjadi anak buah Kahar Muzakkar di TNI.
Menyusup ke sarang musuh dengan menyaru anggota KNIL.
Hingga berkali-kali lolos dari maut dan menyisakan guratan-guratan semacam relief bekas peluru di kulit keriput menjelang tuanya.
Semua legenda itu kembali saya bahasakan dengan dramatis pada teman-teman saya di Sekolah Dasar dulu, sudah pasti dengan tambahan bumbu di sana-sini.

Puang saya angkatan Darat. Tapi jaman perang dulu tak ada istilah dikotomi dalam tugas.
Kadangkala ia bertindak sebagai Kopassus yang garang, sewaktu-waktu bisa jadi sniper akurat, penerjun payung handal, bahkan bisa jadi marinir yang menakutkan.
Meski tentu saja tak semenakutkan marinir-marinir pembunuh rakyat sipil di Pasuruan.

Dua orang abang saya yang mencoba mengikuti jejaknya menjadi tentara, sayang takkan pernah sanggup sepertinya.
Karena jaman hanya menuntut mereka berjuang mengepulkan asap dapur istri masing-masing.
Yah, cukuplah mereka faham arti kedaulatan dan bela negara.

Saya pernah tergelitik membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad bertajuk Tentara, yang berujar :
“….di jaman ini tentara memang harus siap diperlakukan berbeda : sebagai ornamen sebuah Republik, bak sepasukan drum band dalam parade hari kemerdekaan”
Analoginya menggelikan. Tapi ada benarnya.

Makanya, walaupun nasionalisme itu ada, tapi sedikitpun saya tak berminat mengekor langkah Puang ataupun abang-abang saya.
Saya dan seorang abang saya yang lain lebih memilih jalur hidup yang luwes dan melankolis di jalur yang amat bertolak belakang dari kemiliter-militeran.
Saya sendiri makan gaji dari menjadi komedian satir media massa.
Melawan kebijakan pemerintah dengan gambar dan tulisan-tulisan garing yang kadang sama sekali tak lucu, malah rentan menyulut emosi.
Mana nilai patriotisnya..? saya sendiri tak yakin ada.

Tapi minimal saya tetap bangga punya bapak patriot seperti Puang saya..
Puang yang begitu marah jika hanya kami pandang agustus sebelah mata tanpa seremonial sang saka di ujung tiang depan rumah.

Ya, saya bangga.
Kalau tidak, mana mungkin saya dompleng namanya pada ujung nama saya.
dan insya allah, kelak pada anak cucu saya.

18 Tanggapan


Tinggalkan Balasan