Kalender tersobek lagi. Juli berganti agustus.
Tadi sore sudah ada instruksi pak lurah, gapura kemerdekaan depan gang menuju rumah saya sesegera mungkin dirancang dibenahi.
Angka 17 agustus 1945 diganti jenis fontnya, dan dobel warnanya yang sudah mulai buram terhantam terik dan hujan.
Lumayan, ada proyek kecil-kecilan lagi. Setidaknya bisa untung dari uang cat.
Tak lupa replika bambu runcing yang menempel di gapura itu diberi pemanis darah pada ujungnya, begitu katanya.
Seolah mengesankan negeri ini didirikan hanya dengan darah – Cara membaca sejarah yang picik menurut saya.
Tapi bisa dimaklumi, mengingat lurah saya itu alumni STPDN.
Entahlah, bisa ditarik sinkronnya atau tidak.
Sedikit lepas dari itu, saya jadi terkenang ayah saya.
Bukan hanya karena bulan ini genap 10 tahun sejak dia pergi.
Tapi juga karena ayah saya seorang pejuang 45 yang mengecap jadi pejuang gerilya yang benar-benar berdarah-darah.
Kami orang Bugis menyebut ayah dengan Puang.
Jadi saya akan bertutur tentangnya dengan sebutan itu.
Puang saya sebenarnya anumerta -kalau saja ia tak keras kepala.
Sayangnya beliau berkalang tanah hanya jadi almarhum biasa.
Memutuskan keluar dari tentara tanpa prosedur yang legal. Mentok hanya di pangkat letnan.
Sedikit lebih tinggi dari pangkat yang diberikan Nagabonar pada si Bujang.
Harga diri, kata ibu saya, yang jadi satu-satunya pokok alasan Puang waktu itu.
Beliau berselisih paham dengan atasan. Yang berbuah tak ada pensiun dan tunjangan di hari tua.
Ibulah yang kemudian menggantikan perannya jadi single fighter mencari nafkah halal.
Konyol..? saya kuatir begitu..
tapi tentu saja tidak menurut Puang saya.
Darah Bugisnya yang begitu mengsakralkan ego dalam balutan kata “siri” atau kehormatan, menjadikan miskin sebagai pilihan hidup .
Tapi toh beliau menikmati menjadi orang miskin. Sebagian masih terekam dalam ingatan saya.
“Miskin itu tidak haram, Nak. Tapi ia bisa dibilang syubhat. Artinya lebih baik jangan miskin” katanya sembari tergelak.
Banyak memori yang tak lekang dan terhapus begitu saja tentangnya.
Yang saya sangat ingat, betapa saya begitu seksama menyimak cerita-cerita heroik tentangnya, baik dari beliau sendiri, ataupun dari sumber-sumber perawi yang shahih.
Dimana berondongan senjatanya membuat terbirit-birit ekstrimis-ekstrimis dalam perebutan kembali Jogja ke pangkuan Republik.
Atau kisahnya ketika menjadi anak buah Kahar Muzakkar di TNI.
Menyusup ke sarang musuh dengan menyaru anggota KNIL.
Hingga berkali-kali lolos dari maut dan menyisakan guratan-guratan semacam relief bekas peluru di kulit keriput menjelang tuanya.
Semua legenda itu kembali saya bahasakan dengan dramatis pada teman-teman saya di Sekolah Dasar dulu, sudah pasti dengan tambahan bumbu di sana-sini.
Puang saya angkatan Darat. Tapi jaman perang dulu tak ada istilah dikotomi dalam tugas.
Kadangkala ia bertindak sebagai Kopassus yang garang, sewaktu-waktu bisa jadi sniper akurat, penerjun payung handal, bahkan bisa jadi marinir yang menakutkan.
Meski tentu saja tak semenakutkan marinir-marinir pembunuh rakyat sipil di Pasuruan.
Dua orang abang saya yang mencoba mengikuti jejaknya menjadi tentara, sayang takkan pernah sanggup sepertinya.
Karena jaman hanya menuntut mereka berjuang mengepulkan asap dapur istri masing-masing.
Yah, cukuplah mereka faham arti kedaulatan dan bela negara.
Saya pernah tergelitik membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad bertajuk Tentara, yang berujar :
“….di jaman ini tentara memang harus siap diperlakukan berbeda : sebagai ornamen sebuah Republik, bak sepasukan drum band dalam parade hari kemerdekaan”
Analoginya menggelikan. Tapi ada benarnya.
Makanya, walaupun nasionalisme itu ada, tapi sedikitpun saya tak berminat mengekor langkah Puang ataupun abang-abang saya.
Saya dan seorang abang saya yang lain lebih memilih jalur hidup yang luwes dan melankolis di jalur yang amat bertolak belakang dari kemiliter-militeran.
Saya sendiri makan gaji dari menjadi komedian satir media massa.
Melawan kebijakan pemerintah dengan gambar dan tulisan-tulisan garing yang kadang sama sekali tak lucu, malah rentan menyulut emosi.
Mana nilai patriotisnya..? saya sendiri tak yakin ada.
Tapi minimal saya tetap bangga punya bapak patriot seperti Puang saya..
Puang yang begitu marah jika hanya kami pandang agustus sebelah mata tanpa seremonial sang saka di ujung tiang depan rumah.
Ya, saya bangga.
Kalau tidak, mana mungkin saya dompleng namanya pada ujung nama saya.
dan insya allah, kelak pada anak cucu saya.


& Komentar
Agustus 2, 2007 pukul 2:25 am
Semoga PUANG syahid di jalan Allah dan khusnul khotimah. Amin.
Agustus 2, 2007 pukul 3:50 am
jadi (sedikit) merasa bersalah punya niat bolos upacara 17 agustusan ntar!!
Agustus 2, 2007 pukul 6:45 am
sejarah bukan lagi sejarah sebagai media dialog antara masa lalu dan hari ini…
hari kemerdakaan juga tak lebih dari sekedar anak2 “karang taruna” yang berjejer rapi di tengah jalan meminta uang sumbangan (untuk hadiah balap karung (?), atau ngadain malam pertunjukan musik…(?))
maaf kalo terlalu sinis… tapi g ngerti lagi apa arti kata nasionalis ataupun patriotis
Agustus 2, 2007 pukul 6:56 am
Mas.. eh daeng.. atau apa ya enaknya manggil? kita sama2 orang bugis nih ternyata.. aku sempet liat multiply situ, lucu juga ya, kalo tulisan di wordpressnya kok kayaknya serius banget? hehehe.. yaa.. salam kenal aja deh.. ^_^
Agustus 2, 2007 pukul 9:07 am
kita bangsa yang berkepribadian, seharusnya…
segala bentuk feodal yang mengarah pada penistaan manusia adalah kezaliman…
btw, di blog ini, daeng Arham jadi serius…:P
Agustus 2, 2007 pukul 7:00 pm
agustusan yuk….
Agustus 2, 2007 pukul 7:22 pm
kok agustus cepet banget yak?
Agustus 2, 2007 pukul 11:55 pm
smoga agustusan tidak menjadi sekedar seremonial belaka
Agustus 3, 2007 pukul 9:28 am
MERDEKA!!!
Agustus 3, 2007 pukul 3:27 pm
tak ada salahnya mengisi kemerdekaan dengan skillnya masing2..so, tetap berkarya..
Agustus 3, 2007 pukul 11:42 pm
Alwi
Aminiin..
Syukron do’anya
life_love
Bolos aja gak papa kok. Nasionalisme bukan cuma upacara, kan..? hehe.. Jangan dengerin saya..
vdeez
Ketauan nih, anak Karang Taruna..
hihihi..
titiw
Lam kenal balik, tiw..
namanya lucu..
noertika
mantap, Daeng..
kapan-kapan saya quote tuh commentya..
btw, Nda serius ja, cuma belajar waras, kodong..
Anang
Hyuuuuk..
tito
Lah.. nggak kok..
kalo ingat gajian, pasti lama..
hehehe..
y@t
yup, semoga tak hanya sembah-sembah bendera
rovich
Belum merdeka, bro..
Sepanjang bos Orde Baru dan kroninya belum diadili..
tul gak..?
nico
balap karung itu skill juga kan, Mas..?
Agustus 6, 2007 pukul 7:13 pm
kalo aku beda dikit, yang pejuang bapaknya Bapak ku…
jadi gitu kita sama2 keluarga pejuang kan ???????
ayo… Sesama putra pejuang kita bangun bangsa ini jadi bangsa yang Dirgahayu.
skalian nglanjutin cita2 eang kita2 dulu.
Mas arhan di kendari aku di solo, ayow bangun Indonesia, Bersihin gapura tiap saat. jangan nunggu Agustusan, Kye.
Agustus 9, 2007 pukul 6:31 am
arham, kok ada blog disini juga?! koleksi blog yah !? enggak selain di Blogger juga ?! hehehehe…
*salam kenal
Agustus 13, 2007 pukul 10:47 am
kalo niru jawabannya Putri Indonesia:
‘pengecut mati berkali2, tapi kalo pahlawan sekali mati’
kebanyakan dari kita ini pengecut sepertinya
bukan begitu bukan?
ho lopis kuntul baris!!!
Agustus 14, 2007 pukul 11:39 am
Merdeka bung!!!!!
salam
Februari 10, 2008 pukul 2:51 am
iseng-iseng cari kisah tentang “AYAH”, dapat kisahnya Kanda Arham…
April 8, 2008 pukul 10:42 am
bangsa yang bsar adalah bangsa yang menghargai pahlawan2 nya…
April 20, 2008 pukul 10:32 pm
[...] kami hidup sangat sederhana waktu itu. Dihari tuanya, almarhum ayah saya -yang keluar dari TNI secara ilegal- memilih beralih profesi menjadi imam dan penghulu kampung. [...]