Mereka gesit. Mereka sibuk.
Sesekali berlari-lari kecil seperti ritual sa’i di padang Arafah.
Tumpukan kertas dibiarkan berhamburan di atas meja layouter.
Ringtone ponsel bersahutan. Klien di seberang seolah tuli hingga setiap ucapan mesti dengan artikulasi dan intonasi yang sedikit memekakkan telinga.
Besok halaman koran padat pesanan ucapan bela sungkawa.
Yang tulus atau sekadar formalitas,
siapa peduli..?
Hari ini Kapolda berpulang.
Hanya berbalut kain kafan, bukan seragam dengan bintang di pundak.
Padahal masih basah tanah kuburan pejabat Ketua KPU yang dipanggil duluan, tak sampai bilangan sehari.
Kota berduka.
Anak-anak muda divisi iklan itu juga mungkin berduka, tapi mendulang berkah.
Tuhan Maha Baik.
Pun misterius.
Rejeki-Nya ditebar dari tempat tak terduga.
Bahkan dari urai air mata..


2 Tanggapan
Juli 28, 2007 pukul 2:53 pm
sebenernya udah bbrp kali bolak balik dan baca2 di blogboleh mu sejak aku turun gunung…tp blom sempet komen….eh…taunya ada sisi lain dari kepribadianmu yg ternyata bisa diekspos juga hahahahahahahaha……
berkepribadian ganda atau bukan….:-)
nice to be your friend….Ham….
turut belasungkawa buat bapak kapolda yg masih menebar rejeki di saat pun sudah berpulang…..
Juli 29, 2007 pukul 9:13 pm
@Nilahehehe..
tengkyuw, tangteh..
very nice to know u too..